SportsBook.co.id, Jakarta – AC Milan belum mampu mengamankan kemenangan dalam dua laga beruntun Serie A musim 2025/2026 setelah hanya meraih hasil imbang melawan Genoa dan Fiorentina. Meski secara klasemen Rossoneri masih berada di papan atas, hasil tersebut memunculkan diskusi mengenai efektivitas serta kontribusi para pemain baru yang didatangkan pada awal musim.
Secara umum, performa Milan tidak bisa dibilang mengecewakan. Klub asal Kota Mode itu kini menempati peringkat kedua klasemen Serie A dan mencatatkan rekor impresif berupa 18 pertandingan tanpa kekalahan di kompetisi domestik. Mentalitas tim dinilai jauh lebih matang dibandingkan musim sebelumnya, terutama dalam menghadapi tekanan di laga-laga krusial.
Namun, pelatih Massimiliano Allegri tetap bersikap realistis. Ia menegaskan bahwa target utama Milan musim ini adalah mengamankan posisi di zona Liga Champions. Jarak poin yang masih terpaut cukup jauh dari target juara menjadi pengingat bahwa skuad saat ini belum sepenuhnya siap untuk bersaing memperebutkan Scudetto.
Pada bursa transfer musim panas lalu, Milan cukup aktif mendatangkan pemain baru. Beberapa rekrutan langsung memberi dampak positif, termasuk Luka Modric yang tampil konsisten dan menjadi motor permainan di lini tengah. Meski demikian, tidak semua pemain anyar mampu menunjukkan kontribusi maksimal. Setidaknya ada tiga nama yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Pervis Estupinan Belum Menjawab Ekspektasi
Datang untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Theo Hernandez, Pervis Estupinan langsung dibebani ekspektasi tinggi. Milan rela mengeluarkan dana sekitar €18 juta untuk mendatangkan bek kiri asal Ekuador tersebut, dengan harapan ia mampu menjadi solusi jangka panjang di sisi kiri pertahanan.
Penampilan awal Estupinan sebenarnya cukup menjanjikan. Ia tampil agresif dan solid saat menghadapi Udinese, menunjukkan kombinasi kecepatan dan keberanian dalam membantu serangan. Namun, seiring berjalannya waktu, performanya justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Kartu merah saat menghadapi Napoli menjadi momen krusial yang memengaruhi kepercayaan dirinya. Setelah itu, beberapa kesalahan elementer muncul, termasuk blunder di laga kontra Parma dan penampilan yang jauh dari kata meyakinkan saat menghadapi Fiorentina. Kondisi ini membuat sisi kiri pertahanan Milan terlihat rapuh dan mudah dieksploitasi lawan.
Situasi semakin rumit karena Milan belum memiliki pelapis sepadan. Opsi yang tersedia seperti Saelemaekers dan Bartesaghi belum sepenuhnya mampu memberikan stabilitas, sehingga masalah di sektor ini masih belum terpecahkan.
Samuele Ricci Masih Kesulitan Beradaptasi
Samuele Ricci direkrut dari Torino dengan harapan bisa menambah dinamika di lini tengah Milan. Namun, proses adaptasi ke klub sebesar Milan tampaknya tidak berjalan semulus yang diharapkan.
Dalam beberapa penampilan, Ricci terlihat masih ragu dalam mengambil keputusan. Ia cenderung bermain aman dan jarang mencoba umpan progresif atau pergerakan berisiko. Akibatnya, aliran bola Milan di lini tengah kerap terasa lambat dan mudah dibaca lawan.
Padahal, secara kualitas, Ricci memiliki potensi besar. Ia dikenal memiliki visi bermain yang baik serta kemampuan membaca permainan. Sayangnya, hingga sejauh ini, ia belum mampu tampil sebagai pembeda, terutama dalam pertandingan-pertandingan penting.
Masalah lain adalah persaingan posisi. Ricci lebih ideal bermain sebagai gelandang bertahan, namun di posisi tersebut ia harus bersaing dengan nama-nama berpengalaman seperti Luka Modric serta Ardon Jashari. Hal ini membuat menit bermainnya tidak konsisten, yang turut memengaruhi performanya.
Ardon Jashari Masih Belum Membuktikan Harga Mahal
Nama Ardon Jashari menjadi sorotan sejak kedatangannya ke San Siro. Milan menggelontorkan dana besar, mencapai €40 juta, untuk merekrutnya. Investasi sebesar itu tentu menimbulkan ekspektasi tinggi dari publik dan manajemen klub.
Sayangnya, kontribusi Jashari sejauh ini belum sebanding dengan nilai transfernya. Cedera panjang membuatnya harus menepi hampir empat bulan, sehingga ia kehilangan momentum untuk beradaptasi dan membangun chemistry dengan rekan setim.
Minimnya menit bermain menjadi alasan utama mengapa performanya belum terlihat maksimal. Meski demikian, keraguan tetap muncul dari sisi strategi. Banyak pihak mempertanyakan apakah Milan benar-benar membutuhkan gelandang dengan karakteristik yang dinilai mirip dengan Luka Modric.
Dengan filosofi transfer Milan yang selama ini dikenal berhati-hati dan terukur, keputusan mengeluarkan dana besar untuk Jashari memunculkan tanda tanya tersendiri. Allegri sendiri menilai bahwa skuad Milan saat ini baru mengalami perubahan sekitar 55 persen dan masih membutuhkan waktu sebelum benar-benar siap bersaing di level tertinggi.
Dengan musim yang masih panjang, ketiga pemain tersebut masih memiliki kesempatan untuk membuktikan diri. Namun, jika performa tidak segera meningkat, Milan berpotensi menghadapi masalah serius dalam upaya menjaga konsistensi dan bersaing di papan atas Serie A.












