5 Pertandingan Penentu yang Mengakhiri Era Ruben Amorim di Manchester United

Rentetan Hasil Buruk, Keputusan Kontroversial, dan Kekalahan Memalukan yang Mengakhiri Masa Jabatan Amorim di Old Trafford

5 Pertandingan Penentu yang Mengakhiri Era Ruben Amorim di Manchester United
5 Pertandingan Penentu yang Mengakhiri Era Ruben Amorim di Manchester United

SportsBook.co.id, Jakarta – Keputusan Manchester United mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim akhirnya diumumkan secara resmi pada Senin, 5 Januari 2026. Langkah ini cukup mengejutkan publik, mengingat sang pelatih asal Portugal baru menangani Setan Merah selama 14 bulan—periode yang terbilang singkat untuk proyek jangka panjang.

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, pemecatan Amorim bukanlah keputusan mendadak. Hasil-hasil mengecewakan di laga krusial, kegagalan di kompetisi penting, serta hubungan yang memburuk dengan manajemen menjadi rangkaian sebab yang tak terhindarkan. Isu internal disebut turut mempercepat kejatuhan Amorim, terutama kekecewaannya terhadap manajemen klub yang dianggap tidak menepati janji soal dukungan transfer dan penguatan skuad.

Di luar konflik internal tersebut, performa di lapangan juga tak bisa dibantah menjadi faktor utama. Sejumlah pertandingan menjadi simbol jelas bahwa arah permainan Manchester United di bawah Amorim perlahan kehilangan identitas. Berikut lima laga krusial yang menjadi potret runtuhnya era Ruben Amorim di Old Trafford.

1. Tottenham 1-0 Manchester United

Final Eropa yang Lenyap di Bilbao

Final Liga Europa kontra Tottenham Hotspur di San Mames, Bilbao, pada 21 Mei 2025, menjadi momen paling menentukan. Laga ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan juga tiket otomatis ke Liga Champions musim berikutnya yang bernilai sekitar 115 juta euro.

Manchester United memang mendominasi penguasaan bola, tetapi dominasi itu nyaris tanpa makna. Minim kreativitas, tumpul di sepertiga akhir, dan kurang agresif membuat permainan United terlihat datar. Gol tunggal Brennan Johnson cukup untuk mengubur ambisi Eropa Setan Merah.

Keputusan Amorim mencadangkan Alejandro Garnacho hingga 20 menit terakhir menuai kritik tajam. Dalam laga hidup-mati, United justru tampil terlalu berhati-hati dan kehilangan naluri menyerang. Pola pasif ini kemudian menjadi ciri khas negatif yang terus berulang sepanjang masa kepelatihannya.

2. Manchester United 0-2 Bournemouth

Alarm Bahaya Mulai Berbunyi di Old Trafford

Kekalahan 0-2 dari Bournemouth pada 22 Desember 2024 menjadi peringatan dini yang serius. Untuk musim kedua secara beruntun, United tumbang di kandang sendiri dari lawan yang sama, memicu kekecewaan besar di tribun Old Trafford.

Gol-gol Bournemouth yang dicetak Dean Huijsen, Justin Kluivert, dan Antoine Semenyo menegaskan lemahnya pertahanan United. Hasil ini membuat Amorim hanya mengoleksi tujuh poin dari enam pertandingan awal, sebuah start yang jauh dari ekspektasi.

Usai laga, Amorim mengakui tekanan yang ia rasakan. Ia kembali mengulang pernyataannya setelah debut kontra Ipswich bahwa tim akan “menderita dalam waktu lama.” Namun kali ini, kalimat tersebut bukan lagi peringatan, melainkan realitas pahit yang mulai dirasakan semua pihak.

3. Wolves 2-0 Manchester United

Boxing Day yang Menggandakan Luka

Harapan akan kebangkitan cepat sirna hanya dua hari kemudian. Pada 26 Desember 2024, United kembali kalah 0-2 saat bertandang ke markas Wolves di Molineux.

Gol pembuka Wolves tercipta secara ironis—Matheus Cunha mencetak gol langsung dari sepak pojok, bola melayang melewati Andre Onana tanpa sentuhan berarti. Itu menjadi kali ketiga United kebobolan dari situasi serupa dalam tiga pertandingan beruntun, menandakan masalah organisasi bertahan yang belum tersentuh solusi.

Gol penutup dari Hwang Hee-chan semakin memperburuk keadaan. Malam itu juga diwarnai kartu merah Bruno Fernandes, yang sudah ketiga kalinya di musim tersebut. Kekalahan ini mempertegas bahwa krisis United bukan hanya soal hasil, tetapi juga disiplin dan kontrol emosi.

4. Newcastle 4-1 Manchester United

Eksperimen Kiper yang Berakhir Petaka

Dalam upaya meredam tekanan, Amorim membuat keputusan berani pada laga melawan Newcastle, 13 April 2025, dengan mencadangkan Onana dan memberikan debut liga kepada Altay Bayindir.

Namun, langkah tersebut justru menjadi bumerang. Bayindir kebobolan dari tembakan pertama yang mengarah ke gawang dan melakukan kesalahan fatal yang berujung gol keempat Newcastle melalui Bruno Guimaraes.

Dari enam tembakan tepat sasaran, empat berbuah gol. Kekalahan telak 1-4 itu mengguncang mental tim. Seusai pertandingan, Bruno Fernandes mengakui bahwa situasi klub berada pada titik terendah, menyebut United belum pernah mengalami masa sesulit ini. Pernyataan itu mencerminkan ruang ganti yang penuh tekanan dan kepercayaan diri yang runtuh.

5. Grimsby 2-2 Manchester United (Penalti 12-11)

Malam Memalukan di Piala Liga

Musim 2025/2026 yang sempat dibuka dengan optimisme berubah menjadi mimpi buruk pada 27 Agustus 2025. Manchester United tersingkir dari Piala Liga oleh Grimsby Town, tim kasta keempat Liga Inggris.

Laga berakhir imbang 2-2 sebelum Grimsby menang dramatis lewat adu penalti 12-11. Kesalahan kembali dilakukan oleh Onana, yang gagal mengantisipasi peluang dari Charles Vernam dan Tyrell Warren. Meski United sempat menyamakan skor melalui Bryan Mbeumo dan Harry Maguire, mereka gagal menuntaskan laga.

Momen paling ironis terjadi ketika Amorim terlihat membawa papan taktik ke pinggir lapangan, disambut nyanyian ejekan “you’re getting sacked in the morning” dari suporter tuan rumah. Saat itu terdengar seperti olok-olok, namun beberapa bulan kemudian berubah menjadi kenyataan.

Akhir yang Tak Terhindarkan

Lima pertandingan tersebut menjadi rangkuman jelas bagaimana era Ruben Amorim di Manchester United perlahan kehilangan arah. Kombinasi konflik internal, keputusan taktis yang dipertanyakan, serta kegagalan di laga besar akhirnya membuat manajemen mengambil langkah tegas.

Harapan akan revolusi justru berakhir lebih cepat dari rencana. Amorim pergi, meninggalkan pertanyaan besar: apakah masalah Manchester United benar-benar berhenti pada seorang pelatih, atau justru jauh lebih dalam dari itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *