SportsBook.co.id, Jakarta – Liverpool pulang dari Stadion Emirates dengan satu poin berharga setelah bermain imbang tanpa gol melawan Arsenal. Meski gagal mencetak gol, performa The Reds dinilai solid dan penuh karakter. Suara lantang pendukung Liverpool yang memenuhi tribun tamu saat laga usai menjadi penegasan bahwa status juara Inggris masih melekat pada mereka, setidaknya untuk saat ini.
Walau kebanggaan itu mungkin hanya bertahan dalam beberapa bulan ke depan, penampilan ini terasa sebagai respons yang tepat—meski datang agak terlambat—atas label juara yang mereka sandang. Pertandingan berjalan ketat dan tidak selalu menghibur, namun memperlihatkan daya juang serta ketahanan Liverpool saat menghadapi tekanan.
Arsenal sendiri datang dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka belum terkalahkan di kandang dan mulai membayangkan peluang mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun, terutama setelah Manchester City kembali kehilangan poin usai bermain imbang melawan Brighton. Situasi ini mengingatkan pada posisi Liverpool beberapa musim lalu, ketika mereka berada di ambang perubahan status dari penantang menjadi juara.
Mikel Arteta sempat menyinggung soal “poin yang harus dibuktikan” dalam konferensi pers pra-pertandingan. Namun, justru Liverpool yang tampil lebih meyakinkan. Meski masih memiliki sejumlah kekurangan, pasukan Arne Slot menunjukkan bahwa mereka belum habis. Hasil 0-0 ini membuat Arsenal gagal menjauh delapan poin dari City, sementara Liverpool memperpanjang catatan tak terkalahkan menjadi 10 laga di semua ajang sekaligus memulihkan rasa percaya diri.
Sesuai perkiraan, Liverpool lebih banyak bertahan dan menyerap tekanan di babak pertama. Sebagian besar permainan berlangsung di area mereka sendiri. Penempatan Florian Wirtz sebagai false nine bukan sekadar solusi atas minimnya opsi penyerang, tetapi juga memberikan tambahan kekuatan di lini tengah dan kemampuan menjaga penguasaan bola.
Peluang terbaik Liverpool tercipta saat Conor Bradley nyaris mencetak gol, namun sepakannya hanya membentur mistar gawang setelah terjadi miskomunikasi antara William Saliba dan David Raya. Dengan kiper Arsenal sudah keluar dari posisinya, peluang itu terasa sangat dekat sebelum akhirnya digagalkan oleh pertahanan tuan rumah.
Secara keseluruhan, Liverpool bertahan dengan disiplin tinggi dan membuat Alisson Becker relatif minim pekerjaan. Meski cukup nyaman di 45 menit awal, absennya Hugo Ekitike terasa karena Liverpool kekurangan pemain yang mampu menahan bola dan menusuk ke ruang kosong. Kecepatan Jeremie Frimpong kerap menjadi jalan keluar, meski klaim penalti darinya menjelang turun minum diabaikan wasit.
Menghadapi tim teratas liga yang sangat kuat di kandang, Liverpool justru diuntungkan karena tak dibebani tuntutan mendominasi penguasaan bola. Kondisi ini sesuai dengan pendekatan mereka dalam beberapa pekan terakhir. Arsenal pun kesulitan menciptakan peluang bersih, termasuk dari situasi bola mati yang mampu diantisipasi dengan baik oleh lini belakang The Reds.
Selepas jeda, Liverpool tampil lebih berani. Seandainya Frimpong lebih akurat mengirim umpan ke Wirtz, bukan tidak mungkin Arsenal merasakan kekalahan kandang pertama mereka musim ini. Perbedaan kedalaman skuad kedua tim terlihat jelas dari bangku cadangan. Arteta memiliki banyak opsi berkualitas, sementara Slot hanya mampu melakukan satu pergantian di akhir laga setelah Bradley harus ditarik keluar menggunakan tandu.
Cedera Bradley menjadi catatan pahit di tengah penampilan positif Liverpool. Kekhawatiran pun muncul terkait kondisi bek muda tersebut. Insiden ketika Gabriel Martinelli mencoba mendorong Bradley yang terkapar keluar lapangan di menit akhir menuai kritik karena dianggap tidak pantas.
Dengan absennya Mohamed Salah dan Alexander Isak—dua pemain yang musim lalu menyumbang total 52 gol Premier League—serta Ekitike sebagai top skor tim dengan 11 gol, wajar jika Liverpool kesulitan menciptakan banyak peluang. Apalagi mereka menghadapi Arsenal yang baru kebobolan 14 gol sepanjang liga.
Meski demikian, penampilan di laga besar bukanlah masalah utama Liverpool musim ini. Mereka mampu mengambil poin dari Arsenal, serta menundukkan Real Madrid, Atletico Madrid, dan Inter di Liga Champions, serta menyingkirkan Aston Villa di Anfield.
Justru pertandingan melawan tim-tim yang bermain lebih pasif dan menargetkan kelemahan fisik Liverpool yang kerap menjadi sandungan. Mencari solusi untuk membongkar tim-tim dengan pendekatan seperti itu masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Slot.
Catatan imbang melawan Leeds United (dua kali), Sunderland, dan Fulham menunjukkan peluang yang terbuang. Andai sebagian laga tersebut mampu dimenangkan, gambaran musim ini tentu akan jauh lebih cerah.
Kemampuan menciptakan peluang dan mengendalikan laga-laga seperti itu akan menjadi kunci agar Liverpool kembali bersaing di Liga Champions musim depan. Meski sering dianggap sebagai “kekalahan yang disamarkan”, hasil imbang kali ini justru layak dipandang secara positif. Ini adalah fondasi untuk melangkah lebih jauh. Bagaimanapun juga, Liverpool masih berstatus juara.












