Sportsbook.co.id, Jakarta –Francesco Bagnaia memasuki musim baru dengan pendekatan yang berbeda setelah melewati periode paling menantang sepanjang kariernya di kelas utama MotoGP. Perubahan tersebut tidak lepas dari peran mentornya, Valentino Rossi, yang turut membantunya menemukan kembali arah dan motivasi.
Musim 2025 menjadi titik terendah bagi pembalap asal Italia itu sejak naik ke MotoGP dan memperkuat tim pabrikan Ducati. Sejak sesi pramusim, Bagnaia sudah merasakan adanya perbedaan besar pada Desmosedici GP25, khususnya saat melakukan pengereman. Sensasi tersebut jauh dari apa yang ia rasakan pada GP24, motor yang sebelumnya dianggap nyaris sempurna.
Awalnya, juara dunia tiga kali itu optimistis performanya akan membaik seiring berjalannya seri balapan. Namun, harapan tersebut tak sepenuhnya terwujud. Meski mampu finis ketiga pada balapan pembuka musim di belakang Alex Marquez, performanya justru menurun tajam di paruh kedua musim. Hanya pada momen tertentu, seperti di GP Jepang, Bagnaia mampu tampil dominan dan meraih kemenangan besar. Di luar itu, ia kesulitan menandingi konsistensi rekan setimnya, Marc Marquez, yang akhirnya mengunci gelar juara dunia dengan lima seri tersisa.
Situasi tersebut mendorong pembalap asal Turin itu untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Ia mencoba memahami karakter motornya sekaligus mengubah cara pandang dan filosofi balapnya. Setelah menjalani jeda musim dingin dengan lebih tenang untuk merefleksikan kegagalan 2025, Bagnaia fokus mempersiapkan diri demi tampil lebih kompetitif pada musim 2026.
Salah satu figur penting dalam proses kebangkitan tersebut adalah Valentino Rossi, sosok yang selama ini menjadi panutan Bagnaia di VR46 Riders Academy. Uccio Salucci, tangan kanan Rossi sekaligus manajer tim MotoGP milik sang legenda, mengungkapkan bahwa komunikasi antara Bagnaia dan Rossi terjalin intens sepanjang musim dingin.
Menanggapi nasihat yang ia terima, Bagnaia menjelaskan bahwa Rossi dan pelatih pribadinya, Carlo Casabianca, menjadi dua tokoh utama yang kerap memberinya pandangan. Menurutnya, keduanya memiliki pengalaman menghadapi berbagai situasi sulit di dunia balap. Rossi sendiri pernah melewati masa-masa berat dalam kariernya, didampingi oleh Casabianca dan Salucci.
Bagnaia menyebut pesan utama yang ia terima adalah pentingnya menikmati setiap momen. Hal tersebut kembali ia tekankan saat presentasi motor GP26, sebagai pengingat agar tidak terjebak dalam tekanan berlebihan.
Ia juga mengakui bahwa selama empat musim sebelumnya, ia selalu berada di papan atas klasemen dengan hasil yang sangat kompetitif. Namun, kegagalan memenuhi target pada musim lalu membuatnya terlalu keras menilai diri sendiri, bahkan ketika finis di posisi ketiga atau keempat.
Menurut Bagnaia, ia kini berusaha mengambil sisi positif dari setiap hasil dan menganalisis situasi dengan lebih jernih. Keinginan untuk menang tetap ada, tetapi ia menyadari bahwa ketenangan dan proses kerja yang baik jauh lebih penting, terutama saat menghadapi keterbatasan.
Ia mencontohkan bagaimana pada musim lalu, hasil finis ketiga justru membuatnya frustrasi. Saat sebuah pencapaian kehilangan nilainya, fokus pun ikut terganggu. Padahal, ada balapan dengan hasil solid, seperti di Argentina, ketika ia finis keempat dan seharusnya bisa menjadi modal positif untuk terus berkembang.
Dengan filosofi baru dan dukungan dari orang-orang terdekatnya, Bagnaia berharap dapat kembali menemukan performa terbaiknya dan bersaing di level tertinggi MotoGP pada musim mendatang.












