SportsBook.co.id, Medan – Aliansi ambisius untuk membentuk European Superleague akhirnya kandas. Barcelona resmi menarik diri dari proyek tersebut, bukan hanya karena masalah bisnis, tetapi juga karena ketegangan yang terus meningkat dengan rival lama mereka, Real Madrid.
Joan Laporta, presiden klub yang sebentar lagi akan menjalani masa transisi menjelang pemilihan presiden berikutnya, mengungkapkan alasan di balik keputusan penting ini. Ia menegaskan bahwa ketidakharmonisan dengan Real Madrid menjadi salah satu faktor utama mundurnya Barcelona.
Keputusan ini muncul di tengah periode krusial pergantian kepemimpinan. Meski demikian, Laporta tetap optimistis akan kembali menduduki posisi presiden Blaugrana bulan depan. Sebelum menyerahkan jabatan sementara, ia menyempatkan diri memberikan wawancara eksklusif kepada media resmi klub, membahas isu politik, keuangan, dan identitas klub.
Hubungan yang Memanas Jadi Pemicu
Akhir pekan ini menandai berakhirnya keterlibatan Barcelona dalam proyek Superleague. Laporta menekankan bahwa meski proyek ini awalnya dianggap sebagai revolusi dalam dunia sepak bola, realitas di lapangan berbeda.
“Proyek ini tidak bisa dilanjutkan. Biayanya terus meningkat, namun keuntungannya nihil,” ujar Laporta, dikutip dari Diario AS.
Selain faktor finansial, hubungan yang memburuk dengan pihak Real Madrid turut menjadi pertimbangan. Laporta menegaskan bahwa ketidaknyamanan dalam berkolaborasi dengan klub ibukota Spanyol membuat proyek ini tidak bisa diteruskan.
“Kami merasa tidak nyaman dengan Real Madrid karena hubungan kami saat ini sedang tidak harmonis,” tambahnya.
Misi Menyelamatkan Klub: Tantangan Besar Sudah Terlewati
Di luar isu Superleague, Laporta menyambut pemilihan presiden mendatang dengan percaya diri. Ia menilai misi menyelamatkan Barcelona dari krisis ekonomi berada pada jalur yang benar.
Ia menggambarkan masa kepemimpinannya sebagai upaya mengembalikan “semangat” klub. Keputusan-keputusan sulit yang diambil manajemen kini mulai membuahkan hasil positif.
“Saya menghadapi semua ini dengan semangat dan komitmen tinggi. Kami ingin menyelesaikan proyek-proyek yang telah dimulai,” ungkapnya.
Laporta juga menyoroti prestise Barcelona sebagai klub multi-olahraga dengan sejarah panjang, termasuk 48 gelar Eropa. Menurutnya, stabilitas yang ada saat ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan yang tepat.
Strategi Finansial dan Tantangan Ekonomi
Laporta menyinggung penggunaan strategi finansial agresif, termasuk pemanfaatan tuas ekonomi, yang sempat menuai kontroversi. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga daya saing tim tanpa mengorbankan identitas klub.
“Kami perlu membiayai kembali utang dan mencari pendapatan melalui berbagai mekanisme ekonomi. Saat ini, Barcelona dalam proses pemulihan finansial, dibuktikan dengan keuntungan yang tercatat dua tahun berturut-turut,” jelas Laporta.
Tantangan lain yang sempat dihadapi adalah pemindahan kandang sementara ke Montjuïc. Meski berisiko, Laporta bangga karena langkah tersebut dijalankan tanpa mengabaikan prinsip klub, termasuk model kepemilikan dan kualitas skuad.
Isu Pemilihan Presiden dan Jadwal Pertandingan
Salah satu isu yang sempat menimbulkan perdebatan adalah penetapan tanggal pemilihan presiden yang bertepatan dengan jadwal La Liga melawan Sevilla. Laporta memastikan bahwa keputusan tanggal pemilu tidak diambil sembarangan.
“Tanggal ini dipilih setelah berdiskusi dengan Direktur Olahraga Deco dan pelatih Hansi Flick untuk meminimalkan gangguan terhadap performa tim,” ujar Laporta.
Variabel lain adalah jadwal Liga Champions, yang bisa mempengaruhi pertandingan domestik. Namun, Laporta menegaskan bahwa kepentingan olahraga tetap menjadi prioritas.
“Jika jadwal Liga Champions berubah, kami tetap akan memprioritaskan performa tim. Saya yakin anggota klub memahami hal ini karena tujuan utama mereka adalah melihat tim menang,” tutupnya, menambahkan bahwa tempat pemilihan alternatif juga disiapkan agar tidak mengganggu konsentrasi tim.












