SportsBook.co.id, Jakarta – Perjalanan karier Marcus Rashford kembali menjadi bahan perbincangan publik. Kali ini, sorotan datang dari mantan staf lama Manchester United yang mengungkap sisi lain sang penyerang selama berada di Old Trafford. Pernyataan tersebut memicu diskusi mengenai perubahan sikap dan performa Rashford dalam beberapa musim terakhir.
Rod Thornley, yang pernah bekerja hampir dua dekade bersama tim utama Setan Merah, menyampaikan pandangannya terkait perkembangan mentalitas pemain berusia 28 tahun itu. Ia menilai ada perubahan signifikan dalam kepribadian Rashford, terutama menjelang akhir masa baktinya di klub.
Awal Karier yang Gemilang di Old Trafford
Rashford mencuri perhatian publik sepak bola Inggris saat melakoni debut sensasional pada Februari 2016. Dua gol yang ia cetak di laga pertamanya langsung menempatkannya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Inggris. Sejak saat itu, namanya terus menghiasi daftar starter Manchester United.
Pada sisa musim 2015/2016, Rashford dipercaya tampil sejak menit awal dalam hampir seluruh pertandingan penting. Performa konsisten tersebut membuatnya menjadi bagian vital skuad utama. Dalam kurun waktu hampir satu dekade, ia telah membukukan lebih dari 400 penampilan di berbagai kompetisi bersama klub masa kecilnya itu.
Namun, perjalanan yang awalnya tampak cemerlang perlahan mengalami dinamika. Tekanan ekspektasi, perubahan manajer, serta tuntutan performa disebut-sebut memengaruhi kondisi mental dan emosionalnya.
Perselisihan dengan Ruben Amorim
Situasi Rashford semakin rumit ketika hubungannya dengan pelatih Ruben Amorim dikabarkan merenggang. Amorim beberapa kali memberikan komentar terbuka mengenai standar latihan dan profesionalisme yang ia harapkan dari para pemainnya.
Dalam sejumlah kesempatan, Amorim menegaskan bahwa keputusan untuk tidak selalu memainkan Rashford didasarkan pada penilaiannya terhadap performa di sesi latihan serta komitmen sehari-hari. Ia menekankan pentingnya detail kecil dalam kehidupan seorang pesepak bola profesional, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa ada ketidaksesuaian visi antara pelatih dan sang pemain. Pada akhirnya, Rashford memutuskan menerima tantangan baru dengan hengkang ke Spanyol.
Babak Baru Bersama Barcelona
Musim panas 2025 menjadi titik balik penting ketika Rashford resmi bergabung dengan FC Barcelona dengan status pinjaman selama satu musim. Kepindahan ke kompetisi berbeda memberikan suasana baru bagi kariernya.
Di Catalonia, ia perlahan menemukan kembali sentuhan terbaiknya. Dalam 34 pertandingan di semua ajang, Rashford mencatatkan kontribusi signifikan berupa 10 gol dan 13 assist. Statistik tersebut menunjukkan bahwa secara teknis dan kualitas, ia masih mampu bersaing di level tertinggi.
Lingkungan baru yang lebih segar diyakini memberi dampak positif terhadap kepercayaan dirinya. Beberapa laporan menyebutkan bahwa Rashford merasa lebih nyaman dan fokus menjalani kariernya di Spanyol.
Klaim Eks Staf Soal Perubahan Sikap
Meski performanya di lapangan sempat naik turun, sorotan terbesar justru datang dari pernyataan Rod Thornley. Mantan masseur tim utama United itu mengaku melihat perubahan karakter pada diri Rashford dalam beberapa tahun terakhirnya di klub.
Menurut Thornley, Rashford yang dulu dikenal ceria dan penuh semangat perlahan menunjukkan raut murung ketika berada di lingkungan klub. Ia menilai ketidakbahagiaan tersebut tampak jelas dalam bahasa tubuh sang pemain, baik saat latihan maupun pertandingan.
Thornley juga mengkritik tingkat energi Rashford di lapangan yang dianggap tidak konsisten. Ia membandingkan standar intensitas yang diharapkan dari pemain Manchester United dengan apa yang ia lihat dari Rashford kala itu. Dalam pandangannya, potensi besar yang dimiliki sang penyerang tidak sepenuhnya dimaksimalkan selama berseragam Setan Merah.
Karier yang Dianggap Tak Tergarap Maksimal
Salah satu pernyataan paling tajam dari Thornley adalah anggapannya bahwa Rashford “menyia-nyiakan” sebagian kariernya di Manchester United. Ia menekankan bahwa peluang dan fasilitas sudah tersedia, namun faktor internal disebut menjadi penghambat utama.
Komentar tersebut tentu memicu pro dan kontra. Sebagian pihak menilai kritik itu terlalu keras, mengingat kontribusi Rashford yang signifikan selama bertahun-tahun. Namun, tak sedikit pula yang sepakat bahwa performanya memang mengalami fluktuasi drastis dalam beberapa musim terakhir sebelum hengkang.
Di sisi lain, tekanan besar sebagai ikon lokal klub serta ekspektasi publik Inggris juga bisa menjadi beban psikologis tersendiri bagi Rashford.
Peluang Kembali ke Old Trafford?
Masa depan Rashford masih menjadi tanda tanya. Dengan status pinjaman, ia secara teknis masih terikat kontrak dengan Manchester United. Laporan menyebutkan bahwa manajer interim Michael Carrick terbuka terhadap kemungkinan menyambut kembali sang penyerang apabila klub memutuskan mempertahankannya.
Namun demikian, kabar dari Spanyol menyatakan bahwa Rashford merasa betah di Barcelona dan tengah mempertimbangkan masa depan jangka panjang di sana. Stabilitas performa dan suasana baru menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusannya.
Apakah ia akan kembali ke Old Trafford untuk membuktikan diri, atau melanjutkan petualangan di La Liga, masih harus ditunggu. Yang jelas, pernyataan dari mantan staf klub menambah lapisan baru dalam narasi perjalanan kariernya.
Terlepas dari kritik yang datang, Rashford tetap merupakan salah satu talenta besar Inggris. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa ia mampu mengubah keraguan menjadi motivasi, sekaligus menegaskan bahwa perjalanan kariernya belum mencapai titik akhir.












