SportsBook.co.id, Jakarta – Persib Bandung memikul misi besar saat menjamu Ratchaburi FC pada leg kedua babak 16 besar AFC Champions League (ACL) Two 2025/2026. Tertinggal agregat tiga gol membuat situasi tidak mudah, namun Maung Bandung punya satu senjata utama: rekor kandang yang nyaris tanpa cela di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Bermain di hadapan publik sendiri sepanjang musim ini, Persib menunjukkan dominasi luar biasa. Kombinasi performa solid dan dukungan penuh Bobotoh menjadi fondasi kuat bagi tim asuhan Bojan Hodak untuk menjaga asa lolos ke perempat final.
Rekor Kandang Nyaris Tanpa Noda
Sepanjang musim 2025/2026, Persib telah melakoni 14 pertandingan kandang di dua ajang berbeda, yakni ACL Two dan BRI Super League. Hasilnya sangat impresif. Dari total laga tersebut, Persib mengamankan 13 kemenangan dan hanya satu kali bermain imbang.
Artinya, persentase kemenangan mereka di GBLA menyentuh angka 92,86 persen—sebuah statistik yang mencerminkan betapa tangguhnya Maung Bandung saat bermain di Kota Kembang. Tak satu pun tim mampu membawa pulang tiga poin dari markas Persib musim ini.
Satu-satunya tim yang berhasil menahan imbang Persib adalah Lion City Sailors, runner-up ACL Two musim lalu. Dalam laga fase grup, duel berakhir 1-1. Selain hasil tersebut, seluruh pertandingan kandang lainnya sukses disapu bersih dengan kemenangan.
Rekor ini menjadi bukti bahwa GBLA bukan sekadar stadion, melainkan benteng kokoh yang sulit ditembus lawan.
Dominasi di BRI Super League
Dari 14 pertandingan kandang musim ini, sepuluh di antaranya terjadi di kompetisi domestik BRI Super League. Di ajang ini, Persib tampil konsisten dan mampu menaklukkan sejumlah tim kuat.
Beberapa kemenangan penting diraih atas Borneo FC Samarinda, Persija Jakarta, hingga Malut United yang musim ini tampil sebagai pesaing papan atas. Kemenangan-kemenangan tersebut tidak hanya mendongkrak posisi di klasemen, tetapi juga mempertegas reputasi Persib sebagai tim dengan mentalitas kuat saat tampil di kandang.
Produktivitas lini depan dan solidnya pertahanan menjadi faktor utama keberhasilan tersebut. Persib kerap tampil agresif sejak menit awal, memanfaatkan tekanan atmosfer stadion yang dipenuhi Bobotoh untuk menggempur pertahanan lawan.
Ketika bermain di GBLA, intensitas permainan mereka kerap meningkat. Lawan dipaksa bermain di bawah tekanan, baik secara teknis maupun mental.
Superioritas di ACL Two
Tak hanya berjaya di kompetisi domestik, Persib juga memperlihatkan superioritas di level Asia ketika bermain di kandang. Di fase grup ACL Two musim ini, mereka mencatat hasil sempurna dalam laga kandang, kecuali saat ditahan imbang Lion City Sailors.
Tim-tim seperti Manila Digger (Filipina), Selangor FC (Malaysia), dan Bangkok United (Thailand) semuanya dipaksa menyerah di GBLA. Permainan cepat dan disiplin taktik membuat Persib mampu mengontrol pertandingan dengan efektif.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa Persib mampu bersaing di level internasional, khususnya ketika mendapat dukungan penuh dari suporternya. Atmosfer stadion kerap menjadi faktor pembeda yang sulit ditandingi tim tamu.
Magis GBLA dan Peran Bobotoh
Tidak bisa dimungkiri, kekuatan Persib di kandang tak lepas dari peran besar Bobotoh. Ribuan suporter setia selalu memadati tribun, menciptakan tekanan psikologis bagi tim lawan.
GBLA sering kali berubah menjadi lautan biru dengan sorakan tanpa henti sepanjang pertandingan. Dukungan tersebut memberi suntikan moral tambahan bagi para pemain.
Situasi ini yang diharapkan kembali terulang saat menghadapi Ratchaburi FC. Untuk membalikkan defisit tiga gol, Persib membutuhkan bukan hanya strategi matang, tetapi juga energi ekstra dari tribun penonton.
Semangat kolektif antara pemain dan suporter diyakini dapat menciptakan momentum kebangkitan.
Tantangan Berat: Defisit Tiga Gol
Meski memiliki rekor kandang mengesankan, tugas Persib tetap tidak ringan. Pada leg pertama yang digelar di Dragon Solar Park, 11 Februari 2026, mereka harus mengakui keunggulan Ratchaburi FC dengan skor 0-3.
Kekalahan tersebut membuat Maung Bandung wajib menang dengan selisih minimal tiga gol untuk memaksakan perpanjangan waktu, atau empat gol tanpa balas guna memastikan tiket perempat final secara langsung.
Situasi ini jelas menuntut efektivitas tinggi di lini serang serta konsentrasi penuh di sektor pertahanan. Kebobolan satu gol saja akan membuat misi semakin berat.
Namun dengan statistik kandang yang hampir sempurna, optimisme tetap terjaga di kubu Persib.
Mengekspos Kelemahan Tandang Ratchaburi
Di sisi lain, Ratchaburi FC bukan tanpa celah. Performa mereka saat bermain tandang di fase grup ACL Two menunjukkan inkonsistensi.
Dari tiga laga tandang di Grup F, tim asal Thailand tersebut dua kali menelan kekalahan. Mereka takluk 1-3 dari Nam Dinh FC (Vietnam) dan kembali tumbang 0-2 saat menghadapi Gamba Osaka (Jepang).
Satu-satunya kemenangan tandang diraih saat menghadapi Eastern United dari Hong Kong dengan skor telak 7-0. Namun, Eastern United memang menjadi tim dengan performa terlemah di grup tersebut.
Catatan ini menunjukkan bahwa Ratchaburi tidak selalu nyaman bermain di luar kandang. Tekanan dari suporter tuan rumah kerap membuat performa mereka menurun.
Inilah yang bisa dimanfaatkan Persib. Jika mampu mencetak gol cepat dan menjaga tempo permainan tetap tinggi, peluang untuk menciptakan comeback tetap terbuka.
Asa Remontada Masih Hidup
Secara matematis, peluang Persib memang tidak mudah. Namun sepak bola kerap menghadirkan kejutan, terutama ketika sebuah tim memiliki rekor kandang sekuat yang dimiliki Maung Bandung musim ini.
Dengan 13 kemenangan dari 14 laga kandang dan dukungan penuh Bobotoh, Persib punya fondasi kuat untuk mewujudkan remontada. Tantangan besar menanti, tetapi sejarah musim ini menunjukkan bahwa GBLA adalah tempat yang sangat sulit bagi tim tamu.
Kini, semuanya bergantung pada bagaimana Persib memaksimalkan momentum, menjaga disiplin, dan memanfaatkan setiap peluang yang tercipta. Jika semua elemen berpadu, bukan tidak mungkin kisah kebangkitan spektakuler akan tercipta di Bandung.












