Beratnya Kans Juventus Lolos ke 16 Besar Liga Champions, Seperti Mendaki Gunung Terjal

Misi nyaris mustahil menanti Juventus setelah kalah telak di Istanbul, Luciano Spalletti tuntut kebangkitan total demi menjaga asa lolos ke 16 besar Liga Champions

Beratnya Kans Juventus Lolos ke 16 Besar Liga Champions, Seperti Mendaki Gunung Terjal
Beratnya Kans Juventus Lolos ke 16 Besar Liga Champions, Seperti Mendaki Gunung Terjal

SportsBook.co.id, Jakarta – Langkah Juventus untuk menembus babak 16 besar Liga Champions UEFA musim 2025/2026 berada di ujung tanduk. Pada leg kedua babak play-off, Si Nyonya Tua dihadapkan pada misi yang nyaris mustahil. Mereka wajib menang dengan skor 3-0 atas Galatasaray untuk sekadar memaksakan pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

Lebih dari itu, jika ingin langsung mengamankan tiket ke fase 16 besar tanpa tambahan waktu, Bianconeri harus menang dengan selisih minimal empat gol tanpa balas. Target tersebut jelas bukan perkara mudah, mengingat performa inkonsisten yang mereka tampilkan belakangan ini.

Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, tidak menutup mata terhadap beratnya tugas tersebut. Ia mengibaratkan situasi timnya seperti seseorang yang harus mendaki gunung tinggi dalam waktu singkat. Namun, ia tetap menegaskan bahwa timnya tidak akan menyerah begitu saja sebelum pertandingan benar-benar berakhir.

Dampak Kekalahan Telak di Istanbul

Situasi sulit ini berawal dari hasil buruk pada leg pertama yang digelar di Istanbul. Dalam laga tersebut, Juventus dipaksa mengakui keunggulan Galatasaray dengan skor mencolok 2-5. Kekalahan tersebut bukan hanya memukul mental pemain, tetapi juga menempatkan mereka dalam posisi yang sangat tertekan menjelang leg kedua.

Spalletti secara terbuka mengakui bahwa timnya harus bertanggung jawab atas hasil tersebut. Ia menilai banyak keputusan di lapangan yang tidak berjalan sesuai rencana dan berujung pada kesalahan fatal. Menurutnya, tidak ada gunanya mengumbar janji jika tidak diiringi pembuktian nyata di atas lapangan.

Ia juga menyinggung kebiasaan timnya yang kerap menciptakan masalah sendiri. Meski dalam beberapa pertandingan terakhir ada perkembangan positif, Juventus masih sering kehilangan fokus pada momen-momen krusial. Hal itu membuat mereka kesulitan menjaga konsistensi permainan sepanjang 90 menit.

Pertaruhan Besar bagi Klub dan Kota

Spalletti menekankan bahwa laga leg kedua bukan sekadar pertandingan biasa. Ada harga diri klub, harapan para pendukung, serta nama besar kota yang dipertaruhkan. Ia meminta para pemain untuk menunjukkan reaksi yang tepat setelah kekalahan menyakitkan di Turki.

Menurutnya, Juventus belum cukup matang dalam membaca situasi pertandingan, terutama ketika berada di bawah tekanan. Kondisi tersebut semakin memburuk setelah timnya harus bermain dengan situasi sulit akibat kartu merah yang diterima pada leg pertama. Meski begitu, ia tetap menuntut tanggung jawab penuh dari para pemainnya.

Bagi Spalletti, momen ini adalah ujian karakter. Ia ingin melihat apakah para pemain mampu bangkit dari keterpurukan atau justru kembali terpuruk dalam tekanan besar kompetisi Eropa.

Kemunduran yang Dianggap Serius

Kekalahan 2-5 dari Galatasaray tidak hanya dipandang sebagai hasil buruk semata. Spalletti bahkan menyebut performa timnya sebagai kemunduran signifikan. Ia merasa Juventus kehilangan identitas permainan setelah babak pertama berakhir.

Menurutnya, tim mencoba melakukan sejumlah perubahan taktik, tetapi justru kehilangan karakter permainan. Alih-alih memperbaiki keadaan, perubahan tersebut membuat ritme permainan semakin tidak stabil. Ia menyebut laga itu bukan sekadar satu langkah mundur, melainkan tiga langkah sekaligus.

Pelatih asal Italia itu juga menyoroti keputusan pergantian pemain yang tidak efektif. Salah satu contohnya adalah situasi ketika Andrea Cambiaso berada dalam risiko menerima kartu kuning kedua. Dalam pertandingan dengan tensi tinggi, kondisi seperti itu seharusnya segera diantisipasi melalui pergantian pemain. Namun, keputusan yang diambil tidak mampu meredam risiko.

Alih-alih membaik, Juventus malah menerima dua kartu kuning tambahan dalam waktu singkat. Situasi tersebut memperumit keadaan dan membuat tim semakin sulit mengontrol jalannya pertandingan.

Masalah Keseimbangan dan Karakter Permainan

Spalletti menilai persoalan utama Juventus terletak pada keseimbangan permainan. Ia percaya lini belakang akan jauh lebih ringan bebannya jika tim mampu menguasai bola dan memainkan sepak bola yang lebih terstruktur.

Menurutnya, bertahan total dan hanya mengandalkan serangan balik bukan solusi ideal bagi skuad saat ini. Ia merasa komposisi pemain yang dimiliki belum cukup kuat secara karakter untuk terus berada dalam tekanan tanpa penguasaan bola yang baik.

Di kompetisi Eropa seperti Liga Champions, kesalahan kecil bisa berujung fatal. Kurangnya konsentrasi dan kegagalan membaca situasi sering kali menjadi celah yang dimanfaatkan lawan. Hal itulah yang terjadi saat menghadapi Galatasaray, di mana Juventus terlalu mudah ditembus dan gagal mengontrol momentum.

Harapan di Tengah Tekanan

Meski peluang terasa berat, Juventus masih memiliki satu kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Bermain di kandang sendiri pada leg kedua bisa menjadi suntikan motivasi tambahan. Dukungan penuh suporter diharapkan mampu membangkitkan semangat para pemain untuk tampil habis-habisan.

Spalletti menegaskan bahwa mulai saat ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata. Ia ingin melihat determinasi, disiplin, dan keberanian mengambil tanggung jawab di setiap lini.

Laga leg kedua akan menjadi penentu apakah Juventus mampu melakukan salah satu comeback paling dramatis musim ini atau justru harus mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat dari harapan. Satu hal yang pasti, jalan menuju 16 besar memang terasa seperti mendaki gunung terjal—namun selama peluang itu masih ada, Juventus dituntut untuk terus berjuang hingga peluit akhir berbunyi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *