5 Alasan Liga Champions Kini Terasa Lebih Mudah bagi Klub Premier League

Dominasi finansial, kedalaman skuad, hingga intensitas keras Premier League jadi faktor utama yang membuat klub-klub Inggris tampil lebih superior dan konsisten di Liga Champions musim ini.

5 Alasan Liga Champions Kini Terasa Lebih Mudah bagi Klub Premier League
5 Alasan Liga Champions Kini Terasa Lebih Mudah bagi Klub Premier League

SportsBook.co.id, Jakarta – Peta persaingan Liga Champions UEFA musim 2025/2026 menghadirkan fenomena menarik. Saat fase playoff knockout digelar pekan ini, hanya satu wakil Inggris yang turun bertanding, yakni Newcastle United yang melawat ke markas Qarabağ FK di Baku.

Bagi banyak klub Eropa, sekadar mencapai babak playoff sudah menjadi pencapaian membanggakan. Sejumlah juara liga domestik justru tersingkir di fase liga. Bahkan finalis musim lalu seperti Inter Milan dan Paris Saint-Germain tidak mampu lolos langsung ke 16 besar.

Sebaliknya, klub-klub Inggris tampil dominan. Arsenal menyapu bersih delapan laga fase liga dan finis teratas. Liverpool berada di posisi ketiga, Tottenham Hotspur keempat, Chelsea keenam, dan Manchester City kedelapan. Dari delapan tim yang langsung lolos ke 16 besar, lima berasal dari Inggris.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa kompetisi Eropa seolah terasa lebih ringan bagi klub-klub Premier League? Berikut lima faktor utamanya.

1. Kekuatan Finansial yang Sulit Ditandingi

Salah satu fondasi dominasi Inggris adalah faktor ekonomi. Berdasarkan laporan tahunan Deloitte Football Money League, separuh dari 30 klub terkaya dunia berasal dari Premier League.

Nilai kontrak hak siar domestik yang sangat tinggi membuat pemasukan klub-klub Inggris melampaui kompetitor Eropa. Menariknya, distribusi dana di Inggris juga relatif merata, sehingga bukan hanya klub papan atas yang kuat secara finansial, tetapi juga tim papan tengah dan bawah.

Walau uang tidak otomatis menjamin trofi, dalam jangka panjang kekuatan finansial memberi stabilitas, fasilitas latihan terbaik, staf berkualitas, dan kedalaman skuad. Kombinasi inilah yang menciptakan fondasi kuat bagi klub Inggris untuk bersaing di level tertinggi Eropa.

2. Kedalaman Skuad Bertabur Bintang

Kekuatan finansial berbanding lurus dengan kualitas pemain. Banyak talenta elite dunia kini berkarier di Premier League. Jika melihat estimasi nilai pasar skuad global, mayoritas tim dengan valuasi tertinggi berasal dari Inggris.

Artinya, pemain-pemain dengan kualitas dan gaji tinggi terkonsentrasi di sana. Bahkan beberapa pemain kelas dunia justru tidak tampil di Liga Champions karena klubnya gagal lolos dari ketatnya persaingan domestik.

Kedalaman ini membuat klub Inggris mampu melakukan rotasi tanpa penurunan kualitas signifikan. Saat memasuki jadwal padat Eropa, mereka tetap kompetitif karena memiliki pelapis yang setara secara kualitas.

3. Standar Performa Tim yang Konsisten Tinggi

Dominasi Inggris bukan sekadar persepsi. Berdasarkan pemeringkatan Club Elo—sistem yang mengukur kekuatan tim berdasarkan hasil pertandingan selama puluhan tahun—klub Premier League mendominasi daftar teratas.

Selain itu, penilaian kekuatan tim dari pasar taruhan dan analisis statistik independen juga menunjukkan banyak klub Inggris memiliki rating lebih tinggi dibanding mayoritas peserta Liga Champions.

Jika suatu saat diadakan kompetisi yang benar-benar mempertemukan 36 tim terbaik dunia tanpa batasan liga, hampir separuhnya berpotensi berasal dari Inggris. Hal ini mencerminkan betapa padatnya kualitas kompetitif di Premier League.

4. Struktur Undian dan Jadwal yang Menguntungkan

Regulasi kompetisi yang tidak mempertemukan klub dari negara yang sama di fase liga turut memberi efek signifikan. Karena banyak tim Inggris berada di pot unggulan, mereka terhindar dari bentrok internal yang sebenarnya bisa sangat sengit.

Sebagai contoh, Tottenham tidak mungkin berhadapan dengan Arsenal atau Manchester City pada fase liga. Ini secara tidak langsung menurunkan tingkat kesulitan jadwal.

Data kekuatan jadwal juga menunjukkan beberapa klub Inggris mendapatkan undian relatif lebih ringan dibanding peserta dari liga lain. Meski tidak semua—seperti Newcastle yang mendapat jalur cukup berat—secara umum wakil Premier League menikmati rintangan yang lebih moderat.

Paradoksnya, jadwal terlihat “mudah” justru karena mereka memang sangat kuat. Kombinasi kualitas tinggi dan absennya duel sesama klub Inggris membuat peluang finis di delapan besar semakin terbuka.

5. Intensitas Premier League Lebih Berat Secara Fisik

Faktor lain yang jarang dibahas adalah tuntutan fisik. Premier League dikenal sebagai liga dengan tempo tinggi, duel keras, dan intensitas tanpa henti.

Menurut sejumlah analisis statistik musim ini, jumlah duel udara dan situasi bola mati di Inggris meningkat drastis. Pertandingan lebih banyak diwarnai perebutan bola kedua, lemparan jauh, serta duel fisik dibanding beberapa musim sebelumnya.

Perbandingan menunjukkan rata-rata duel udara di Premier League jauh lebih tinggi daripada di Liga Champions. Artinya, pemain Inggris terbiasa menghadapi tekanan fisik lebih besar setiap pekan.

Ketika tampil di Eropa, ritme pertandingan relatif lebih terkontrol. Banyak tim kontinental lebih mengandalkan penguasaan bola dan kombinasi taktis, sehingga laga terasa lebih terbuka dan tidak seintens kompetisi domestik Inggris.

Akibatnya, klub-klub Premier League sering tampak lebih siap secara stamina dan mental saat bermain di Liga Champions. Keunggulan bola mati mereka pun menonjol, terlihat dari statistik expected goals situasi set-piece yang menempatkan wakil Inggris di papan atas.

Kesimpulan

Dominasi klub-klub Premier League di Liga Champions bukan kebetulan. Kekuatan finansial, kedalaman skuad, konsistensi performa, struktur jadwal, serta tuntutan fisik domestik yang tinggi menciptakan kombinasi ideal.

Ketika klub Inggris melangkah ke panggung Eropa, mereka datang dengan sumber daya lebih besar, pemain lebih berkualitas, serta mental yang teruji oleh kerasnya kompetisi domestik. Dalam konteks tersebut, tidak berlebihan jika banyak yang menilai Liga Champions kini terasa lebih “mudah” bagi wakil Premier League dibandingkan kerasnya persaingan di Inggris sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *