SportsBook.co.id, Jakarta – Karier panjang Thomas Muller bersama Bayern Munich nyaris mengambil jalur berbeda. Pada 2014, penyerang serbabisa asal Jerman itu hampir saja hengkang ke Manchester United. Jika kepindahan tersebut benar-benar terjadi, bukan tidak mungkin dinamika persaingan di Eropa dalam satu dekade terakhir ikut berubah.Thomas Müller ungkap alasan di balik penolakannya terhadap Manchester United pada 2014, keputusan yang akhirnya mengukuhkan statusnya sebagai legenda Bayern Munich sebelum memulai petualangan baru di MLS.
Müller sendiri mengakui bahwa tawaran dari Old Trafford kala itu bukan sekadar rumor. Ia benar-benar mempertimbangkan peluang tersebut, apalagi saat itu sosok pelatih yang sangat berpengaruh dalam perjalanan kariernya, Louis van Gaal, sedang menangani Setan Merah.
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube “Away Days”, Müller bercerita bahwa momen itu terasa tepat. Ia berada pada fase matang dalam kariernya dan peluang merasakan atmosfer liga berbeda terdengar menggoda. Andai saja transfer itu terwujud, mungkin wajah United setelah era Sir Alex Ferguson akan berbeda.
Di sisi lain, Bayern kemungkinan tak akan menikmati kontribusi Müller selama bertahun-tahun berikutnya. Hingga mengakhiri kebersamaannya pada 2025, ia mencatatkan 756 penampilan, torehan terbanyak dalam sejarah klub, serta mempersembahkan 33 trofi. Dengan 250 gol, ia juga menempati posisi ketiga dalam daftar pencetak gol sepanjang masa Bayern—sebuah warisan yang sulit tergantikan.
Jejak Awal di München yang Nyaris Terhenti
Menariknya, sebelum menjadi ikon di Allianz Arena, Müller hampir saja meninggalkan Bayern pada fase awal kariernya. Demi mendapatkan menit bermain reguler di level senior, ia sempat berada di ambang kepindahan ke Hoffenheim.
Namun, peran penting dimainkan oleh Hermann Gerland, pelatih Bayern Munich II saat itu. Ia meyakinkan manajemen agar mempertahankan Müller. Ketika Van Gaal datang ke München pada 2009, keputusan tersebut terbukti tepat. Di usia 20 tahun, Müller langsung diberi kepercayaan tampil reguler di tim utama.
Van Gaal memang tak meraih kesuksesan serupa saat menukangi Manchester United. Namun reputasinya sebagai pelatih pembentuk pemain muda sudah terbangun sejak menangani Ajax, Barcelona, Bayern, hingga tim nasional Belanda. Di Bayern, sentuhannya terasa luas: Bastian Schweinsteiger diubah menjadi gelandang bertahan kelas dunia, Philipp Lahm berkembang sebagai pemimpin, dan Holger Badstuber dipromosikan ke level tertinggi.
Müller menjadi salah satu produk paling sukses dari filosofi keberanian Van Gaal memainkan pemain muda.
Tawaran Menggoda dari Old Trafford
Saat mengenang proposal dari United, Müller tidak menutup-nutupi ketertarikannya. Ia mengakui bahwa tawaran tersebut datang di waktu yang ideal. Namun, kontraknya bersama Bayern masih tersisa tiga tahun, dan manajemen klub langsung menolak negosiasi sejak awal.
Penolakan itu justru memberinya rasa dihargai. Bayern secara tegas menyatakan ingin mempertahankannya dengan segala cara. Situasi tersebut membuat Müller memutuskan memperpanjang kontrak dan tetap setia di München.
Bagi United, saat itu adalah periode transisi. Musim 2013/14 menjadi tahun pertama tanpa gelar liga setelah era kejayaan panjang. Di bawah David Moyes, mereka finis di posisi ketujuh dan gagal tampil di kompetisi Eropa. Proyek pembangunan ulang sedang dimulai, dan Müller dipandang sebagai figur ideal untuk mengembalikan identitas klub.
Pada periode yang sama, Müller telah mengoleksi 256 laga dan 99 gol untuk Bayern. Ia baru saja meraih treble bersejarah 2012/13, termasuk trofi UEFA Champions League, serta menjadi juara dunia bersama tim nasional Jerman di FIFA World Cup 2014. Tantangan di liga lain tentu terasa logis bagi pemain yang sudah meraih hampir segalanya di Jerman.
Tawaran Fantastis yang Gagal Terwujud
Upaya United mendatangkan Müller ternyata tidak hanya sekali. Van Gaal kemudian mengonfirmasi bahwa pendekatan serius dilakukan pada 2014 dan 2015. Bahkan pada musim 2015/16—yang menjadi musim tersubur Müller dengan 32 gol—rumor kepindahan kembali menguat.
Media Jerman sempat melaporkan bahwa United menawarkan sekitar 70 juta paun. Setahun berselang, Karl-Heinz Rummenigge menyebut adanya proposal luar biasa dari klub Inggris tersebut, yang nilainya berpotensi melampaui rekor transfer dunia saat itu.
Rekor tersebut masih dipegang oleh kepindahan Gareth Bale ke Real Madrid pada 2013, dengan angka sekitar 85 juta paun. Jika Müller menerima tawaran itu, ia mungkin akan menjadi pemain termahal di dunia saat itu.
Van Gaal bahkan pernah menyebut faktor keluarga turut memengaruhi keputusan tersebut. Ia menyinggung bahwa keraguan istri Müller untuk pindah ke luar negeri menjadi salah satu penyebab transfer batal.
Jalan Berbeda dan Babak Baru di MLS
Waktu akhirnya membuktikan bahwa keputusan bertahan di Bayern membentuk warisan yang tak ternilai. Namun, ketika meninggalkan klub pada musim panas lalu, Müller menegaskan bahwa peluang bergabung dengan Manchester United sudah tertutup selamanya. Menurutnya, ia dan klub tersebut tidak lagi berada di jalur yang sama.
Alih-alih berlabuh di Inggris, Müller memilih membuka lembaran baru di Amerika Serikat bersama Vancouver Whitecaps FC yang berlaga di Major League Soccer. Bergabung menjelang akhir musim reguler 2025, ia langsung memberi dampak signifikan.
Whitecaps finis sebagai runner-up Wilayah Barat dan untuk pertama kalinya menembus final MLS Cup. Müller menggambarkan periode awalnya di Kanada sebagai masa yang sangat intens, penuh adaptasi cepat sebelum babak play-off dimulai.
Kini, memasuki musim kedua kontraknya yang berlaku hingga akhir 2026, pemain berusia 36 tahun itu tampak menikmati tantangan baru. Ia bahkan menunjukkan ketertarikannya pada sejarah klub, termasuk keberhasilan Whitecaps menjuarai NASL pada 1979.
Ambisi berikutnya sudah jelas. Setelah kalah di final dari Inter Miami CF yang diperkuat Lionel Messi, Whitecaps bertekad bangkit dan menjadi tim Kanada pertama dari Wilayah Barat yang mampu mengangkat trofi MLS.
Seandainya Müller menerima pinangan Manchester United satu dekade lalu, mungkin kisahnya akan berbeda. Namun sepak bola sering kali dibentuk oleh keputusan kecil yang membawa dampak besar. Dalam kasus Müller, kesetiaan pada Bayern melahirkan legenda—sementara petualangan barunya di Amerika menjadi penutup indah dari perjalanan panjang seorang juara dunia.












