Sidang CAS atas Status Tujuh Pemain Naturalisasi Malaysia Resmi Dimulai

Sidang di CAS Lausanne menjadi penentu nasib tujuh pemain naturalisasi Harimau Malaya, dengan peluang banding lanjutan ke Tribunal Federal Swiss jika sanksi tetap ditegakkan.

Sidang CAS atas Status Tujuh Pemain Naturalisasi Malaysia Resmi Dimulai
Sidang CAS atas Status Tujuh Pemain Naturalisasi Malaysia Resmi Dimulai

SportsBook.co.id, Jakarta – Proses hukum yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia kini memasuki babak krusial. Persidangan di Court of Arbitration for Sport (CAS) resmi digelar di Lausanne, Swiss, pada Kamis (26/2/2026). Perkara ini berkaitan dengan dugaan pemalsuan dokumen yang menjadi dasar klaim garis keturunan Malaysia para pemain tersebut.

Sejumlah media di Malaysia mengikuti perkembangan kasus ini secara intens. Laporan panjang yang dimuat oleh New Straits Times memaparkan secara rinci kronologi perkara hingga akhirnya bergulir ke lembaga arbitrase olahraga tertinggi di dunia tersebut.

Awal Mula Persoalan Administrasi

Kasus ini berawal pada 19 Maret 2025 ketika Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mengirimkan surat kepada FIFA guna meminta klarifikasi terkait kelayakan Hector Hevel membela Timnas Malaysia. Dalam pengajuan itu, FAM melampirkan dokumen berupa akta kelahiran kakek Hevel, Hendrik Jan Hevel, yang diterbitkan pada 6 Januari 2025 dan mencantumkan tempat lahir di wilayah Selat Malaka.

Sehari kemudian, FAM kembali mengajukan dokumen serupa untuk memproses status Gabriel Felipe Arocha. Kali ini, berkas yang diserahkan berupa akta kelahiran nenek Arocha, María Belen Concepción Martin, yang disebut lahir di Melaka pada 17 Mei 1956.

Tak berselang lama, tepatnya 24 Maret 2025, FIFA memberikan konfirmasi bahwa Hector Hevel dinilai memenuhi persyaratan untuk memperkuat Timnas Malaysia berdasarkan dokumen yang diajukan.

Gelombang Pengajuan Tambahan

Langkah FAM tidak berhenti di situ. Pada 6 Juni 2025, federasi tersebut kembali mengajukan permohonan untuk lima pemain lain: Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, dan Jon Irazabal Iraurgui. Dokumen yang disertakan mencantumkan akta kelahiran leluhur masing-masing pemain, dengan lokasi yang tersebar di Penang, George Town, Johor, hingga Kuching.

Pada hari yang sama, FIFA menyatakan Machuca dan Irazabal memenuhi syarat. Tiga hari kemudian, tepatnya 9 Juni 2025, badan sepak bola dunia itu juga mengesahkan kelayakan Arocha, Garces, Holgado, serta Figueiredo.

Dengan demikian, ketujuh pemain tersebut resmi dapat membela skuad Harimau Malaya di ajang internasional.

Debut dan Kemenangan Meyakinkan

Ketujuh pemain itu langsung tampil membela Malaysia dalam laga Kualifikasi Piala Asia 2027 melawan Vietnam pada 10 Juni 2025. Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan meyakinkan 4-0 untuk Malaysia. Dalam laga itu, Figueiredo mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-49, disusul gol Holgado sepuluh menit kemudian.

Namun euforia kemenangan tersebut tidak berlangsung lama. Sehari setelah pertandingan, FIFA menerima pengaduan resmi yang mempertanyakan keabsahan dokumen dan proses naturalisasi para pemain. Aduan tersebut menyoroti dugaan kejanggalan dalam proses administrasi hingga percepatan debut internasional mereka.

Proses Disipliner dan Sanksi Berat

FIFA kemudian membuka proses disipliner terhadap FAM dan tujuh pemain terkait pada 22 dan 28 Agustus 2025 melalui portal hukum resminya. Mereka diberikan tenggat waktu hingga 22 September 2025 untuk memberikan tanggapan.

Hasilnya diumumkan pada 25 September 2025. Komite Disiplin FIFA menyatakan FAM melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA. Federasi dijatuhi denda sebesar 350.000 franc Swiss, setara sekitar Rp7,5 miliar. Sementara itu, masing-masing pemain dikenai denda 2.000 franc Swiss (sekitar Rp43 juta) serta larangan berpartisipasi dalam seluruh aktivitas sepak bola selama 12 bulan.

FAM bersama para pemain kemudian mengajukan banding. Namun pada 3 November 2025, Komite Banding FIFA menolak permohonan tersebut, sehingga sanksi tetap diberlakukan.

Tak lama berselang, pada 18 November 2025, FIFA merilis laporan setebal 64 halaman yang menyimpulkan bahwa klaim garis keturunan Malaysia para pemain didasarkan pada akta kelahiran yang dinilai tidak sah atau palsu.

Banding ke CAS dan Penangguhan Sementara

Menghadapi situasi tersebut, FAM mengambil langkah lanjutan dengan mengajukan Pernyataan Banding ke CAS pada 8 Desember 2025. Dokumen tambahan kemudian dilengkapi pada 18 Desember 2025 sebagai bagian dari prosedur resmi.

Pada 26 Januari 2026, CAS memutuskan untuk menangguhkan sementara sanksi larangan 12 bulan terhadap para pemain hingga putusan final dikeluarkan. Keputusan ini memberi ruang bagi para pemain untuk tetap beraktivitas sembari menunggu hasil sidang.

Sidang resmi akhirnya dijadwalkan dan digelar di Lausanne pada Kamis (26/2/2026), dengan agenda mendengarkan argumen dari kedua belah pihak serta menelaah bukti-bukti yang diajukan.

Opsi Hukum ke Tribunal Federal Swiss

Sejumlah media Malaysia turut menyoroti kemungkinan langkah hukum berikutnya apabila FAM kembali mengalami kekalahan. Harian Utusan Malaysia menyebutkan bahwa federasi masih dapat membawa perkara ini ke Mahkamah Agung Federal Swiss atau Swiss Federal Tribunal (SFT).

Namun perlu dicatat, ruang lingkup pengajuan ke SFT sangat terbatas. Tribunal tersebut hanya menangani banding atas putusan lembaga arbitrase internasional seperti CAS dalam kondisi dan alasan hukum tertentu, misalnya pelanggaran prosedur atau ketidaksesuaian prinsip dasar hukum.

Sementara itu, Stadium Astro memperkirakan putusan CAS terhadap tujuh pemain naturalisasi Harimau Malaya akan diumumkan pada Jumat (27/2/2026) pagi waktu Malaysia.

Menanti Putusan Penentu

Kini, perhatian publik sepak bola Malaysia tertuju pada hasil sidang di Lausanne. Putusan CAS akan sangat menentukan masa depan tujuh pemain tersebut, reputasi FAM, serta implikasi terhadap kiprah Malaysia di level internasional.

Apabila sanksi dibatalkan, Malaysia dapat melanjutkan program naturalisasi tanpa bayang-bayang hukuman. Sebaliknya, jika CAS menguatkan keputusan FIFA, maka perjuangan hukum kemungkinan berlanjut ke tingkat peradilan Swiss.

Apa pun hasilnya, kasus ini menjadi salah satu perkara administrasi dan naturalisasi paling besar yang pernah melibatkan sepak bola Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *