Babak Terakhir Trae Young Bersama Atlanta Hawks

Tujuh Musim, Banyak Kenangan, dan Akhir yang Tak Terhindarkan di Atlanta

SportsBook.co.id, Jakarta -Ada rasa pilu yang sulit disembunyikan dari Trae Young terlihat meninggalkan State Farm Arena lebih awal, bahkan sebelum Atlanta Hawks memastikan kemenangan 117–100 atas New Orleans Pelicans. Tidak ada sorak-sorai, tak ada selebrasi. Hanya keheningan. Sebuah isyarat bahwa sebuah perjalanan panjang telah sampai di ujungnya.
Trae Young malam itu memang tidak turun bermain. Beberapa saat sebelum ia berjalan meninggalkan arena, kabar besar sudah lebih dulu menyebar: Atlanta Hawks sepakat melepas Young ke Washington Wizards. Sebagai gantinya, Hawks menerima C.J. McCollum dan Corey Kispert.
NBA kerap memperlihatkan wajah yang kontras. Di satu sisi, liga ini memuja kesetiaan pemain yang menghabiskan seluruh kariernya bersama satu tim. Di sisi lain, keputusan bisnis bisa datang tanpa kompromi, dengan dalih profesionalisme dan kontrak yang telah disepakati. Dalam sistem NBA, tim memiliki hak penuh untuk menukar pemain kapan saja, kecuali jika sang pemain memiliki klausul larangan pertukaran. Trae Young tidak memiliki perlindungan tersebut.
Meski begitu, perpisahan Young dan Hawks tidak sepenuhnya diliputi konflik. Situasinya lebih menyerupai kesepakatan diam-diam. Manajemen Hawks enggan mengabulkan permintaan perpanjangan kontrak maksimal dari Young. Respons sang bintang pun jelas: lebih baik mencari rumah baru. Dari situlah arah perpisahan mulai terbentuk.
Trae Young telah menjadi wajah Atlanta sejak 2018. Ia dipilih Dallas Mavericks pada urutan kelima NBA Draft 2018, lalu langsung ditukar dengan Luka Dončić, pilihan ketiga milik Hawks. Pertukaran yang kelak dikenang sebagai salah satu barter paling ikonik dalam sejarah NBA modern. Keduanya tumbuh menjadi pemain utama dan mesin poin bagi tim masing-masing.
Selama berseragam Hawks, Young empat kali terpilih ke All-Star. Ia juga menjadi pemimpin asis liga pada musim 2024–2025. Di musim keduanya, Young mencatatkan rata-rata 29,6 poin per pertandingan—angka terbaik sepanjang kariernya dalam satu musim.
Namun, musim 2025–2026 berjalan jauh dari kata ideal. Cedera ligamen lutut (MCL) yang dialaminya pada akhir Oktober membuat Young absen selama 22 pertandingan. Setelah kembali dan bermain dalam 10 laga, nasib kembali tidak berpihak. Cedera memaksanya menepi lagi, dan tak lama setelah itu, kabar pertukaran pun resmi terdengar.
Dalam 10 pertandingan singkat tersebut, Young mencatatkan rata-rata 19,3 poin dan 8,9 asis per gim—hanya sedikit lebih baik dari rata-rata terendahnya di musim debut. Lebih mencolok lagi, Hawks hanya meraih dua kemenangan dan delapan kekalahan saat ia bermain. Sebaliknya, tanpa Young, performa Hawks justru relatif lebih stabil dengan rekor 16–13, hingga total 18–21 usai menundukkan Pelicans.
Fakta-fakta itu seolah memperkuat keyakinan manajemen bahwa Hawks bisa berjalan tanpa sang bintang. Dalam tujuh musim lebih kebersamaan mereka, Hawks tiga kali lolos ke playoff dan empat kali gagal. Prestasi terbaik datang pada musim 2020–2021, ketika Hawks menembus Final Wilayah Timur sebelum disingkirkan Milwaukee Bucks—yang kemudian keluar sebagai juara NBA.
Namun, angka statistik tak sepenuhnya mampu menceritakan makna kehadiran Trae Young di Atlanta. Hubungan emosional antara Young dan Hawks terbangun lewat momen-momen ikonik, tembakan-tembakan krusial, serta keberaniannya membawa Hawks kembali diperhitungkan. Salah satu warisan paling melekat adalah rivalitasnya dengan New York Knicks. Sejak era Reggie Miller, publik Madison Square Garden seolah menemukan musuh baru dalam diri Trae Young.
Romantisme itu kini harus dihentikan.
Dari sudut pandang Hawks, keputusan melepas Young memiliki landasan yang kuat. Musim ini memberi gambaran bahwa arah tim bisa berubah. Secara keseluruhan, rasio kemenangan Hawks bersama dan tanpa Young memang nyaris seimbang. Namun, masa depan tampaknya mengarah ke wajah baru.
Atlanta kini menaruh harapan besar pada Jalen Johnson. Pemain tahun keempat itu menunjukkan perkembangan pesat dan tampil sebagai poros permainan baru. Johnson mencatatkan rata-rata 23,7 poin, 10,4 rebound, dan 8,4 asis per gim—kontribusi serba bisa yang menjanjikan. Hawks juga memiliki Nickeil Alexander-Walker, serta dua talenta muda potensial, Zaccharie Risacher dan Dyson Daniels.
Kondisi inilah yang diyakini menjadi alasan Hawks menolak kontrak maksimal untuk Young. Meski begitu, nilai pertukaran yang didapat tetap memicu perdebatan. Untuk pemain sekelas Trae Young, biasanya paket trade melibatkan pilihan draft putaran pertama. C.J. McCollum memang pemain berpengalaman, tetapi perbedaan usia—Young 27 tahun, McCollum 34—membuat kesepakatan ini terasa kurang seimbang.
Di sisi lain, Hawks bisa berargumen bahwa risiko cedera Young dan beban kontrak jangka panjang menjadi pertimbangan utama. Dengan kontrak McCollum yang lebih pendek, Hawks berpotensi memiliki fleksibilitas finansial besar di masa depan untuk memburu bintang lain.
Hampir satu dekade menikmati Atlanta Hawks berarti menikmati Trae Young. Namun seperti banyak kisah cinta di NBA, kebersamaan itu harus berakhir secara dramatis atas nama profesionalisme. Malam itu, Young meninggalkan arena dalam keheningan, sementara sorak kemenangan Hawks menutup bab terakhir kariernya di Atlanta.
Kini tinggal menunggu satu momen yang tak terelakkan: saat Trae Young kembali ke State Farm Arena sebagai pemain Washington Wizards. Sebuah momen yang layak disambut meriah, karena begitulah cara NBA menghormati masa lalu—meski telah memilih jalan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *