Dari Rashford Hingga Mainoo, Ruben Amorim Tinggalkan Jejak Konflik di Manchester United

Hubungan yang memburuk dengan sejumlah pemain kunci menjadi salah satu faktor berakhirnya era Ruben Amorim di Old Trafford.

SportsBook.co.id, Medan Perjalanan Ruben Amorim bersama Manchester United harus berakhir lebih cepat dari perkiraan. Pelatih asal Portugal tersebut resmi dilepas dari jabatannya setelah hanya 14 bulan menangani Setan Merah, tepat setelah pertandingan melawan Leeds United pada pekan ke-20 Liga Inggris 2025/2026.

Pemecatan Amorim sebenarnya datang di saat Manchester United mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Posisi tim perlahan membaik dan sempat merangkak naik ke zona papan atas klasemen Premier League.

Namun, performa yang masih naik-turun serta masalah internal yang tak kunjung mereda menjadi faktor utama berakhirnya masa kepelatihan Amorim di Old Trafford. Di balik perbaikan hasil, ruang ganti MU justru diwarnai ketegangan antara sang pelatih dengan sejumlah pemain.

Seiring waktu, hubungan Amorim dengan beberapa penggawa kunci memburuk, termasuk nama-nama besar seperti Marcus Rashford hingga talenta muda Kobbie Mainoo.

Marcus Rashford: Dari Harapan Baru hingga Terbuang

Awalnya, kehadiran Ruben Amorim sempat dianggap membawa harapan bagi Marcus Rashford. Penyerang Inggris itu langsung tampil meyakinkan dengan torehan tiga gol dalam dua laga pertamanya di bawah arahan Amorim.

Namun, performa Rashford kemudian merosot. Amorim mulai mempertanyakan sikap dan profesionalisme sang pemain, khususnya terkait intensitas latihan. Ketegangan memuncak saat Amorim secara terbuka menjelaskan alasan Rashford dicoret dari skuad utama, dengan menegaskan bahwa kualitas latihan menjadi tolok ukur utama.

Situasi tersebut berujung pada peminjaman Rashford ke Aston Villa. Ketika kembali, ia tak mendapat kesempatan kedua dan akhirnya kembali dipinjamkan, kali ini ke Barcelona.

Alejandro Garnacho: Retak di Momen Penentuan

Alejandro Garnacho juga masuk dalam daftar pemain yang bersitegang dengan Amorim. Hubungan keduanya memburuk saat MU melangkah jauh di kompetisi Liga Europa.

Kesalahan Garnacho di semifinal menjadi sorotan tajam dari sang pelatih. Kritik tersebut berlanjut dengan keputusan mencadangkan pemain Argentina itu pada partai final melawan Tottenham.

Kekecewaan Garnacho mencuat ke publik usai laga, ketika ia mempertanyakan minimnya menit bermain di pertandingan paling penting musim tersebut. Tak lama kemudian, Garnacho resmi hengkang dan bergabung dengan Chelsea dalam kesepakatan bernilai besar.

Jadon Sancho: Masalah yang Tak Pernah Usai

Pergantian pelatih ternyata tak membawa angin segar bagi Jadon Sancho. Di bawah Amorim, situasi winger Inggris itu justru semakin memburuk.

Amorim menilai Sancho tidak memenuhi standar komitmen serta kebutuhan taktik tim. Pernyataan tersebut membuat masa depan Sancho di MU kian suram, hingga manajemen menyetujui kepindahannya ke Aston Villa.

Ketegangan keduanya masih terasa saat MU berhadapan dengan Villa. Amorim memilih bersikap dingin dan menegaskan fokusnya hanya tertuju pada skuad yang ia tangani.

Antony: Tak Pernah Masuk Skema

Antony nyaris tak mendapat ruang sejak Amorim mengambil alih tim. Winger asal Brasil tersebut dianggap tidak cocok dengan pendekatan permainan yang diterapkan.

Pada Januari 2025, Antony dipinjamkan ke Real Betis. Amorim menyebut tuntutan fisik sebagai alasan utama keputusannya. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari pihak Antony, yang merasa sang pemain diperlakukan tidak adil.

Akhirnya, MU melepas Antony secara permanen ke Betis. Pemain tersebut kemudian secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap perlakuan klub dan pelatih selama di Inggris.

Rasmus Hojlund: Tak Sejalan dengan Filosofi

Rasmus Hojlund sempat tetap mendapat menit bermain di era Amorim, tetapi perannya sebagai ujung tombak utama perlahan memudar.

Pada bursa transfer musim panas, striker Denmark itu dipinjamkan ke Napoli. Sejak saat itu, relasi keduanya semakin dingin. Amorim menyatakan membutuhkan penyerang dengan pergerakan cepat dan kecerdasan membaca ruang, pernyataan yang dianggap menyindir Hojlund secara langsung.

Hojlund pun merespons lewat media sosial dengan unggahan bernada sindiran, menandai berakhirnya hubungan yang tak harmonis.

Kobbie Mainoo: Talenta Muda yang Terabaikan

Keputusan Amorim membatasi menit bermain Kobbie Mainoo menjadi salah satu kebijakan paling kontroversial. Sepanjang musim, gelandang muda tersebut hanya sekali dipercaya sebagai starter.

Situasi ini bertolak belakang dengan reputasi Mainoo yang sebelumnya tampil impresif, termasuk di Euro 2024 dan final Piala FA. Amorim disebut meragukan kemampuan Mainoo untuk beradaptasi dalam skema dua gelandang yang menuntut kecepatan tinggi.

Penilaian tersebut memicu perdebatan luas di kalangan penggemar dan pengamat, sekaligus menambah daftar panjang konflik internal yang akhirnya mengakhiri era Ruben Amorim di Manchester United.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *