SportsBook.co.id, Bali – Para pembalap MotoGP mulai merenungkan tantangan fisik dan mental yang dihadapi sepanjang musim 2025, dan pandangan mereka terbagi soal apakah jumlah balapan terlalu banyak. Salah satu yang menyuarakan ketidakpuasan adalah Fabio Di Giannantonio.
Pembalap VR46 itu menilai jadwal musim ini, yang mencakup 22 seri termasuk sprint race, terlalu menekan fisik para pembalap. Artinya, setiap rider harus turun di 44 balapan sepanjang tahun.
Kejuaraan musim ini semakin berat bagi para pembalap, terutama setelah gelar Marc Marquez di Jepang dan insiden yang menimpanya di Indonesia, sehingga hasil akhirnya terasa kurang memuaskan.
Di Giannantonio mengatakan bahwa padatnya jadwal membuat para pembalap punya sedikit kesempatan untuk fokus pada latihan dan menjaga kebugaran optimal.
“Terlalu banyak balapan. Terlalu banyak perjalanan, terlalu berat bagi tubuh. 44 balapan itu terlalu banyak,” ujar Di Giannantonio di Valencia.
“Latihan awal tahun mungkin intens, tapi sepanjang musim kita hanya bisa menjaga performa. Turunnya kondisi fisik itu wajar. Tapi itulah pekerjaan kami, jadi kami harus melakukannya.”
Johann Zarco dari tim LCR sependapat dengan Di Giannantonio, menambahkan bahwa para pembalap harus tetap fokus pada tes Valencia yang berlangsung tak lama setelah balapan terakhir.
“Beban dari 22 balapan terasa. Tubuh agak kewalahan,” kata Zarco.
“Kami butuh lebih banyak istirahat di musim dingin untuk mengembalikan energi. Kadang akhir pekan hanya bisa dijalani dengan 70–80 persen energi, bukan 100 persen. Tapi kami tahu pentingnya tetap fokus untuk sesi berikutnya.”
Mantan rekan setim Di Giannantonio, Marco Bezzecchi, juga mengakui bahwa 22 seri membuat musim sangat menuntut, tapi ia menekankan hasil balapan turut memengaruhi persepsi para rider terhadap kalender.
Bezzecchi menutup musim 2025 dengan kuat, menang di dua seri terakhir di Portimao dan Valencia dengan motor Aprilia RS-GP.
“Semuanya tergantung suasana hati. Jika performa baik, balapan terasa cepat,” ujarnya.
“22 seri dengan 44 balapan sprint sangat menantang secara fisik dan mental. Tapi jika Anda nyaman dengan tim dan motor, itu tetap menyenangkan.”
Perluasan MotoGP banyak ditujukan ke pasar Asia, mengikuti strategi serupa Formula 1. Francesco Bagnaia dari Ducati menyambut baik upaya ini, meski ia berharap musim berakhir lebih cepat.
“Kami siap menghadapi semua tantangan. Menambah balapan di luar Eropa itu menyenangkan,” kata Bagnaia.
“Tentu lebih menantang, tapi kami menikmatinya. Tahun lalu mungkin satu balapan lagi, musim ini lima balapan lagi, tapi begitulah kenyataannya.”
Pedro Acosta dari KTM tidak keberatan dengan kalender yang panjang, tetapi mengakui risiko cedera lebih terasa sekarang.
“Jumlah balapan ini bagus. Kami banyak waktu bersama tim dan tetap menjaga ritme,” ungkapnya.
“Bagi rider cedera, ini lebih berat. Dulu bisa kehilangan satu atau dua balapan, sekarang bisa sampai empat seri berturut-turut.”












