SportsBook.co.id, Medan – Pergantian pelatih kerap membawa dampak signifikan bagi nasib para pemain tim nasional. Kondisi tersebut kini dirasakan sejumlah pemain Inggris sejak Thomas Tuchel resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Oktober 2024. Pelatih asal Jerman itu mengemban tugas jangka pendek dengan target jelas: membawa The Three Lions meraih kejayaan di Piala Dunia musim panas ini.
Seiring perubahan arah dan pendekatan, beberapa nama yang sebelumnya akrab di skuad Inggris perlahan tersisih dari perhatian. Salah satu yang paling menonjol adalah bek Manchester United, Harry Maguire. Meski memiliki jam terbang tinggi bersama tim nasional, perannya nyaris tak terlihat sejak Tuchel mulai menyusun kerangka tim pilihannya.
Penampilan solid Maguire dalam laga Manchester United kontra Manchester City akhir pekan lalu kembali memantik diskusi mengenai peluangnya. Namun, faktor waktu tampaknya menjadi tantangan tersendiri bagi sang bek untuk menambah jumlah caps yang saat ini berada di angka 64.
Memasuki usia 32 tahun dan dengan masa kontrak yang akan berakhir pada musim panas mendatang, masa depan internasional Maguire berada di titik krusial. Kendati demikian, rekam jejaknya di turnamen besar tetap menjadi nilai tambah, terlebih mengingat misi Tuchel yang menuntut hasil cepat.
Maguire bukanlah figur sembarangan ketika berbicara soal kompetisi mayor. Ia tampil konsisten di Piala Dunia 2018, Euro 2020, serta Piala Dunia 2022, dan berulang kali menjadi pilar penting di jantung pertahanan Inggris. Di tengah skuad yang kini relatif minim pengalaman di ajang besar, sosok dengan latar belakang seperti Maguire seharusnya memiliki nilai strategis.
Selain pengalaman, Maguire juga menawarkan profil teknis yang langka. Ia merupakan bek tengah berkaki kiri alami, sesuatu yang saat ini jarang dimiliki Inggris. Ketiadaan opsi serupa kerap memaksa Tuchel menempatkan pemain berkaki kanan, seperti Marc Guehi, di sisi kiri lini pertahanan.
Sayangnya, persepsi publik terhadap Maguire kerap tidak mencerminkan kontribusinya di atas lapangan. Sejak menyandang status sebagai bek termahal dunia usai pindah ke Manchester United dari Leicester City pada 2019, ia sering dijadikan simbol penurunan standar klub—sebuah narasi yang sejatinya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Karier Maguire di level tertinggi hampir selalu berjalan di bawah sorotan dan tekanan besar. Ia kerap menjadi sasaran kritik, bahkan ejekan dari pendukung lawan, termasuk sebagian fans Leicester City sendiri, meskipun transfernya kala itu justru membantu klub membangun tim yang kemudian menjuarai Piala FA.
Di balik hiruk-pikuk tersebut, rekan setim dan para pelatih yang pernah bekerja dengannya memahami nilai sesungguhnya dari Maguire. Sejak awal membela Timnas Inggris, ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tidak berlebihan. Pendekatannya sederhana: membiarkan performa berbicara.
Caps terakhir Maguire bersama Inggris tercatat pada September 2024, saat tim masih ditangani pelatih interim Lee Carsley. Cedera memang sempat mengganggu ritmenya, namun sinyal yang muncul menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya masuk dalam rencana Tuchel. Meski demikian, jika Maguire mampu menjaga konsistensi penampilan bersama Manchester United pada paruh kedua musim, peluang untuk kembali membela The Three Lions seharusnya masih terbuka.












