SportsBook.co.id, Jakarta – Partai puncak Piala Afrika (AFCON) antara Senegal dan Maroko di Rabat berubah menjadi laga yang sarat ketegangan dan drama. Final yang digelar di Stade Prince Moulay Abdallah tersebut diwarnai keputusan kontroversial, intervensi VAR yang memicu emosi, hingga aksi walk off pemain Senegal sebelum akhirnya ditentukan oleh satu gol krusial di masa tambahan waktu.
Senegal keluar sebagai juara setelah menundukkan Maroko dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang Pape Gueye pada menit ke-94 memastikan Singa Teranga mengangkat trofi Piala Afrika untuk kedua kalinya dalam sejarah, sekaligus menutup turnamen dengan cerita yang penuh perdebatan.
Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim tampil sangat berhati-hati. Senegal dan Maroko sama-sama mengedepankan organisasi pertahanan yang rapat, membuat peluang bersih nyaris tak tercipta sepanjang waktu normal. Duel lini tengah berlangsung keras dan intens, sementara para penyerang kesulitan menemukan ruang tembak yang ideal.
Ketegangan memuncak bukan karena gol, melainkan akibat rangkaian keputusan wasit yang kemudian menjadi sorotan utama di laga final ini.
Penalti Kontroversial dan Aksi Walk Off Pemain Senegal
Drama besar bermula di masa injury time ketika Senegal sempat merayakan gol melalui sundulan Ismaila Sarr. Namun, euforia tersebut sirna setelah wasit Jean Jacques Ndala menganulir gol tersebut karena pelanggaran yang dilakukan Abdoulaye Seck dalam proses terjadinya gol.
Situasi semakin panas ketika wasit menerima rekomendasi VAR untuk meninjau insiden di kotak penalti Senegal. Setelah melihat tayangan ulang, Ndala menunjuk titik putih untuk Maroko pada menit ke-98, sebuah keputusan yang langsung memicu protes keras dari kubu Senegal.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, menunjukkan kemarahannya dengan menarik sebagian besar pemain keluar lapangan sebagai bentuk protes. Aksi walk off tersebut membuat pertandingan terhenti selama kurang lebih 16 menit dan menimbulkan ketegangan luar biasa di stadion.
Setelah negosiasi panjang dan situasi mulai kondusif, para pemain Senegal akhirnya kembali ke lapangan dan pertandingan dilanjutkan. Maroko mendapat kesempatan emas untuk menentukan juara melalui titik penalti.
Brahim Diaz, gelandang kreatif milik Real Madrid yang tampil tajam sepanjang turnamen dengan koleksi lima gol, maju sebagai eksekutor. Namun, upaya panenka yang dilakukannya justru terbaca dengan sempurna oleh Edouard Mendy. Kiper Senegal itu berdiri tenang dan menangkap bola tanpa kesulitan, memupus harapan Maroko sekaligus memicu sorak sorai pendukung Senegal.
Kegagalan penalti tersebut membuat laga berlanjut ke babak tambahan waktu dengan tensi yang semakin tinggi dan emosi yang belum sepenuhnya mereda.
Gol Penentu Pape Gueye dan Mental Baja Singa Teranga
Memasuki extra time, Senegal tampil dengan energi berbeda. Tekanan mental akibat keputusan kontroversial justru menjadi bahan bakar bagi permainan mereka. Singa Teranga tampil lebih agresif dan berani mengambil risiko dalam menyerang.
Puncaknya terjadi pada menit ke-94. Berawal dari situasi serangan terorganisir, Pape Gueye yang naik dari lini kedua melepaskan tembakan keras dengan kaki kiri dari luar kotak penalti. Bola meluncur kencang, melewati jangkauan Yassine Bounou, membentur bagian bawah mistar, lalu bersarang di gawang Maroko.
Gol tersebut langsung mengubah atmosfer stadion. Para pemain Senegal merayakannya dengan luapan emosi, sementara kubu Maroko terlihat terpukul setelah gagal memanfaatkan penalti sebelumnya.
Maroko berusaha bangkit di sisa waktu dengan meningkatkan intensitas serangan. Beberapa peluang berhasil diciptakan, namun ketangguhan lini belakang Senegal dan penampilan solid Edouard Mendy membuat upaya tersebut tak membuahkan hasil. Bahkan, Yassine Bounou harus bekerja ekstra keras di sisi lain lapangan untuk menggagalkan dua peluang beruntun dari Cherif Ndiaye.
Peluit panjang akhirnya dibunyikan di tengah suasana yang masih dipenuhi perdebatan. Senegal resmi keluar sebagai juara Piala Afrika setelah melewati final yang penuh tekanan, kontroversi, dan drama emosional.
Gelar ini menjadi bukti ketangguhan mental Singa Teranga. Di tengah situasi sulit dan keputusan yang dianggap merugikan, Senegal mampu tetap fokus, bertahan, dan memanfaatkan satu momen krusial untuk memastikan kejayaan di benua Afrika.












