Jeremy Jacquet: Alasan Chelsea Siap Rogoh £60 Juta untuk Bek Muda Rennes

Bek 20 tahun asal Prancis ini dinilai punya paket lengkap untuk menjadi fondasi baru pertahanan Chelsea di era BlueCo.

Jeremy Jacquet: Alasan Chelsea Siap Rogoh £60 Juta untuk Bek Muda Rennes
Jeremy Jacquet: Alasan Chelsea Siap Rogoh £60 Juta untuk Bek Muda Rennes

SportsBook.co.id, Jakarta Chelsea kembali aktif di bursa transfer demi menemukan sosok bek tengah yang mampu menjadi fondasi baru pertahanan mereka. Sejak Antonio Rudiger hengkang ke Real Madrid pada 2022 dan Thiago Silva mengakhiri petualangannya di Stamford Bridge dua tahun setelahnya, The Blues belum juga menemukan pengganti yang benar-benar sepadan. Kini, harapan tersebut diarahkan kepada satu nama muda dari Prancis: Jeremy Jacquet.

Bagi banyak pihak, ketertarikan Chelsea pada Jacquet terasa berisiko. Usianya baru menginjak 20 tahun dan pengalaman bermain di level tertinggi masih sangat terbatas. Ia jelas belum berada di level Rudiger atau Silva, bahkan jika dibandingkan dengan bek tengah Chelsea saat ini. Namun, di mata manajemen BlueCo, Jacquet adalah tipe bakat elite yang memang layak dikejar—bukan sekadar proyek murah tanpa masa depan jelas.

Pertanyaannya kini, siapa sebenarnya Jeremy Jacquet? Apa yang membuat Chelsea menilainya sebagai solusi jangka panjang? Dan apakah harga £60 juta yang dipatok Rennes benar-benar sepadan?

Dari Bondy Menuju Panggung Profesional

Jeremy Jacquet lahir di Bondy, wilayah pinggiran Paris, pada 13 Juli 2005. Saat final Piala Dunia 2006 yang diwarnai insiden Zidane dan Materazzi berlangsung, Jacquet bahkan belum genap berusia satu tahun. Ketika Prancis kembali berjaya di Piala Dunia 2018, ia masih bermain di level akar rumput bersama klub lokal RC Joinville.

Seperti banyak talenta Prancis lainnya, Jacquet luput dari pantauan Paris Saint-Germain. Rennes justru melihat potensi besar dalam dirinya dan merekrutnya pada 2019. Klub tersebut memang dikenal sebagai salah satu penghasil pemain muda terbaik di Ligue 1, dan Jacquet menjadi bagian dari tradisi itu.

Jalan Cepat ke Tim Utama

Perkembangan Jacquet terbilang pesat. Di usia 18 tahun, ia langsung dipromosikan ke tim senior Rennes dan mencatat debut di Ligue 1 pada Januari 2024 saat menghadapi Nice. Tak lama kemudian, ia dipinjamkan ke Clermont yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi.

Meski gagal menyelamatkan klub tersebut, performa Jacquet tetap mencuri perhatian. Rennes menilai menit bermain lebih penting bagi perkembangannya. Setelah tampil gemilang bersama Timnas Prancis U-19 dan masuk Team of the Tournament Piala Eropa—meski kalah dari Spanyol di final—ia kembali dipinjamkan ke Clermont, kali ini di Ligue 2.

Di kasta kedua, kualitas Jacquet terlihat terlalu menonjol. Ia menjadi pemimpin lini belakang, dominan dalam duel udara, dan nyaman mengawali serangan dari area pertahanan. Rennes akhirnya memutuskan untuk menariknya lebih cepat pada pertengahan musim 2024/25 dengan biaya sekitar £780 ribu.

Keputusan itu terbukti tepat. Jacquet langsung menjadi pilihan utama, tampil sebagai starter dalam 11 dari 14 laga sisa Ligue 1 dan membantu Rennes finis aman di papan tengah.

Posisi Jacquet Saat Ini

Walau jam terbangnya di liga elite masih relatif minim, nama Jacquet sudah dikaitkan dengan transfer besar pada 2025. Arsenal sempat mempertimbangkannya sebagai pengganti Jakub Kiwior, namun Rennes menutup pintu setelah sang pemain meneken kontrak baru pada Mei lalu. Jacquet sendiri tak terlihat tergoda, dan Arsenal akhirnya beralih ke Piero Hincapie.

Spekulasi transfer tak memengaruhi performanya. Musim ini, Jacquet hampir selalu turun sebagai starter, hanya absen dua kali akibat sanksi. Ia juga telah mengoleksi lima penampilan bersama Prancis U-21, dan dorongan agar Didier Deschamps memanggilnya ke tim senior semakin menguat menjelang Piala Dunia 2026.

Dengan profil seperti itu, kecil kemungkinan Jacquet akan kekurangan peminat. Chelsea memang telah menyepakati syarat personal dengannya, tetapi kegagalan memenuhi valuasi Rennes bisa membuka jalan bagi klub besar lain.

Kelebihan Utama Jacquet

Jacquet memiliki karakter bek tengah modern: percaya diri, agresif namun terukur, serta matang secara mental untuk pemain seusianya. Ia fleksibel dalam berbagai skema, baik bermain dalam tiga maupun empat bek, di sisi kanan atau kiri, bahkan sesekali bertindak sebagai sweeper.

Kecepatan dan kekuatan fisiknya membuatnya efektif menjaga area luas, sementara duel udara menjadi keunggulan utama saat bertahan maupun menyerang bola mati. Di tim seperti Chelsea yang sangat mengandalkan situasi set piece, kontribusinya bisa menjadi nilai tambah besar.

Statistik juga mendukung reputasinya. Jacquet termasuk lima persen teratas bek tengah Eropa dalam jumlah intersepsi, dengan rata-rata 1,69 per 90 menit. Ia piawai membaca permainan dan berani keluar menekan lawan pada momen krusial.

Yang paling membedakannya dari bek muda Prancis lainnya adalah kualitas distribusi bola. Umpan panjang, progresi vertikal, hingga keberanian membawa bola ke area lawan menjadi bagian alami dari permainannya.

Area yang Masih Perlu Diasah

Namun, Jacquet belum sempurna. Tantangan terbesarnya adalah adaptasi. Bermain di klub sebesar Chelsea dengan sorotan media dan ekspektasi tinggi jelas berbeda dengan atmosfer Ligue 1.

Selain itu, gaya bermain agresifnya masih menyimpan risiko. Saat timing tekel meleset, konsekuensinya bisa fatal. Ia kerap terjebak duel yang tidak perlu atau melakukan pelanggaran ceroboh.

Musim ini, Jacquet menerima kartu merah pertamanya saat Rennes dibantai PSG 5-0. Sudah mengantongi kartu kuning, ia melakukan pelanggaran terhadap Gonçalo Ramos yang berujung pengusiran. Tak lama setelah kembali, ia kembali menerima kartu kuning yang membuatnya terkena skors otomatis.

Isu disiplin pun masih menjadi catatan, dan bergabung dengan Chelsea—tim yang dalam tiga musim terakhir konsisten berada di papan bawah klasemen fair play Liga Inggris—belum tentu menjadi lingkungan ideal untuk mempercepat pendewasaannya.

Bayangan Cristian Romero?

Gaya bermain Jacquet kerap disamakan dengan Cristian Romero, kapten Tottenham Hotspur. Meski perbandingan ini mungkin kurang disukai fans Chelsea, kesamaan karakter sulit diabaikan.

Keduanya adalah bek agresif yang hidup dari duel dan keberanian mengambil risiko. Saat gaya tersebut berjalan baik, hasilnya bisa luar biasa. Namun saat meleset, konsekuensinya tak jarang merugikan tim.

Romero telah membuktikan dirinya sebagai juara dunia, meski masih bergelut dengan masalah disiplin. Jacquet, yang masih sangat muda, memiliki waktu panjang untuk merapikan kekurangannya—dan Chelsea berharap ia bisa mencapai level serupa tanpa membawa seluruh sisi negatifnya.

Lalu, Apa Langkah Selanjutnya?

Chelsea disebut telah mencapai kesepakatan personal dengan Jacquet, dan sang pemain terbuka untuk pindah sebelum penutupan bursa Januari. Apakah Rennes bersedia menurunkan harga £60 juta masih menjadi tanda tanya, namun keyakinan di Stamford Bridge cukup kuat: Jacquet adalah pemain yang layak ditebus mahal.

Rennes sendiri hanya terpaut dua poin dari zona Liga Champions dan sadar bahwa minat besar akan kembali muncul pada musim panas jika Chelsea mundur sekarang. Bagi Jacquet, bertahan hingga akhir musim dan mengevaluasi opsi pada musim panas juga bisa menjadi langkah bijak.

Pelatih Rennes, Habib Beye, menegaskan pentingnya sang pemain:
“Jeremy adalah bagian vital dari ambisi kami. Kehilangannya berarti kami harus menurunkan target. Ia salah satu pemain terbaik di tim, dan kami harus tahu bagaimana menolak pendekatan seperti ini.”

Namun kebutuhan Chelsea akan bek tengah yang benar-benar bisa diandalkan tak bisa diabaikan. Jika mereka sepenuhnya percaya pada potensi Jacquet, keputusan besar harus diambil—karena dalam sepak bola modern, setiap pemain selalu punya harga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *