SportsBook.co.id, Jakarta – Memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membawa dampak luas, termasuk ke dunia sepak bola. Kompetisi tertinggi Iran, Persian Gulf Pro League musim 2025/2026, terpaksa dihentikan mendadak hanya beberapa jam sebelum sejumlah pertandingan dijadwalkan berlangsung.
Serangan udara yang terjadi membuat situasi keamanan di sejumlah kota besar, termasuk Teheran, berada dalam kondisi siaga tinggi. Penutupan wilayah udara Iran menjadi keputusan cepat yang diambil pemerintah setempat demi alasan keamanan. Dampaknya, bukan hanya aktivitas sipil yang lumpuh, tetapi juga nasib para pemain dan staf asing yang kini terjebak tanpa kepastian kapan bisa meninggalkan negara tersebut.
Media Spanyol melaporkan bahwa sejumlah profesional asal Eropa yang berkarier di klub-klub Iran menghadapi situasi sulit. Mereka tidak hanya kehilangan kesempatan bertanding, tetapi juga harus memikirkan keselamatan diri dan cara untuk keluar dari wilayah konflik.
Perjalanan Mendadak yang Berubah Jadi Krisis
Dua staf asal Spanyol, Pepe Losada dan Emilio Alvarez, menjadi di antara sosok yang terdampak langsung. Keduanya bekerja untuk klub raksasa Teheran, Persepolis. Losada berperan sebagai pelatih kebugaran, sementara Alvarez menangani posisi pelatih kiper.
Pada Jumat, 27 Februari 2026, mereka bertolak ke Isfahan untuk mempersiapkan laga tandang. Namun setibanya di bandara tujuan, suasana yang mereka temui jauh dari normal. Terminal terlihat kosong, aktivitas penerbangan menurun drastis, dan pengumuman pembatalan penerbangan mulai terdengar.
Situasi semakin memburuk keesokan harinya. Pemerintah Iran resmi menutup seluruh wilayah udara. Tak ada lagi penerbangan domestik maupun internasional yang diizinkan beroperasi. Dalam kondisi tersebut, Losada dan Alvarez tidak memiliki pilihan selain kembali ke Teheran melalui jalur darat. Mereka menempuh perjalanan panjang menggunakan bus, melewati suasana mencekam yang dipenuhi ketidakpastian.
Perjalanan itu bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras mental. Ketidakjelasan informasi dan kekhawatiran akan eskalasi konflik membuat setiap kilometer terasa lebih panjang dari biasanya.
Munir El Haddadi Tertahan di Bandara
Nasib yang lebih dramatis dialami oleh Munir El Haddadi. Penyerang yang pernah memperkuat FC Barcelona tersebut kini bermain untuk Esteghlal.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Munir sudah berada di dalam pesawat dan bersiap meninggalkan Iran. Namun, sebelum pesawat sempat lepas landas, serangan udara terjadi dan penerbangan dibatalkan. Ia terpaksa turun kembali ke terminal bandara Teheran.
Sejak saat itu, Munir dikabarkan masih berada di Iran. Klubnya disebut tengah berupaya mencari solusi terbaik agar sang pemain bisa keluar dengan aman. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah perjalanan darat menuju perbatasan Turki melalui Bazargan. Namun, rute tersebut tidaklah singkat. Jarak dari Teheran ke perbatasan Turki diperkirakan mencapai 1.300 hingga 1.500 mil, perjalanan panjang yang tentu membutuhkan perencanaan matang serta jaminan keamanan.
Kondisi ini menunjukkan betapa rapuhnya situasi para pemain asing ketika konflik bersenjata meletus secara tiba-tiba. Dalam hitungan jam, jadwal latihan dan pertandingan berubah menjadi upaya penyelamatan diri.
Antonio Adan Berhasil Keluar Lebih Awal
Di tengah situasi genting tersebut, ada satu nama yang lebih beruntung. Antonio Adan, mantan kiper Real Madrid, Real Betis, dan Atletico Madrid, berhasil meninggalkan Iran tepat sebelum wilayah udara resmi ditutup.
Adan, yang juga membela Esteghlal, sukses mendapatkan salah satu kursi di penerbangan terakhir yang diizinkan terbang. Keberhasilannya keluar lebih cepat menjadi pengecualian di tengah banyaknya pemain dan staf asing yang masih tertahan.
Meski demikian, kepulangan Adan tidak mengurangi kekhawatiran terhadap rekan-rekannya yang masih berada di Iran. Situasi keamanan yang dinamis membuat setiap rencana perjalanan harus disusun dengan hati-hati.
Respons Pemerintah dan Ancaman bagi Kompetisi
Pemerintah Spanyol turut merespons kondisi darurat tersebut. Kedutaan Besar Spanyol di Teheran dilaporkan telah menghubungi sekitar 150 warga negaranya yang berada di Iran, meminta mereka untuk tetap waspada dan menjaga komunikasi secara intensif.
Khusus untuk Losada dan Alvarez, otoritas meminta keduanya segera melapor setelah tiba kembali di Teheran. Langkah ini diperlukan agar skenario evakuasi dapat disiapkan apabila kondisi semakin memburuk. Namun, proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara instan. Diperkirakan setidaknya membutuhkan tiga hingga empat hari, tergantung perkembangan situasi keamanan.
Penghentian kompetisi Persian Gulf Pro League sendiri menjadi pukulan berat bagi sepak bola Iran. Musim lalu, liga tersebut juga sempat terhenti akibat konflik militer yang dikenal sebagai Perang Dua Belas Hari. Kini, gangguan kembali terjadi, bahkan dengan dampak yang lebih luas karena melibatkan banyak pemain asing.
Krisis ini menegaskan bahwa dunia olahraga tidak pernah sepenuhnya terlepas dari dinamika geopolitik. Para pemain yang biasanya berjuang di lapangan hijau, kini harus menghadapi realitas konflik bersenjata dan ketidakpastian keselamatan. Bagi mereka, prioritas bukan lagi mencetak gol atau meraih kemenangan, melainkan menemukan jalan pulang dengan selamat.












