SportsBook.co.id, Medan – Pep Guardiola dianggap sudah waktunya mempertimbangkan untuk mundur dari jabatannya sebagai pelatih Manchester City setelah hampir sepuluh tahun menangani klub tersebut. Penilaian keras ini datang dari pembawa acara talkSPORT, Adrian Durham, menyusul dua hasil buruk yang diterima The Citizens dalam waktu berdekatan.
Manchester City menelan kekalahan menyakitkan dari rival sekota mereka, Manchester United, di Old Trafford pada Sabtu (19/1/2026). Tiga hari kemudian, hasil yang tak kalah mengejutkan terjadi ketika City takluk dari klub asal Norwegia, Bodo/Glimt, dalam ajang Liga Champions.
Meski Guardiola telah mempersembahkan total 18 trofi sejak kedatangannya pada 2016, Durham menilai sang manajer memiliki tanggung jawab moral untuk menawarkan pengunduran diri di tengah kondisi tim yang dinilainya mengkhawatirkan. Terlebih, Man City kini terancam gagal menembus delapan besar fase liga Liga Champions serta tertinggal tujuh poin dari Arsenal dalam persaingan gelar Premier League.
Dalam podcast talkSPORT Daily’s Fiery Fridays, Durham menyamakan situasi Guardiola dengan periode akhir Arsene Wenger di Arsenal.
“Pep Guardiola adalah pelatih hebat, tapi tidak lagi pada level itu sekarang. Ini sangat mirip dengan akhir era Arsene Wenger. Ia pernah brilian, lalu perlahan kehilangan sentuhannya,” ujar Durham.
“Wenger bertahan terlalu lama. Pep seharusnya belajar dari itu dan menawarkan diri untuk mundur. Ada alasan kuat di baliknya,” tambahnya.
Durham menegaskan bahwa setiap pelatih memiliki kewajiban etis ketika tim yang diasuhnya mengalami kekalahan memalukan.
“Jika sebuah tim dipermalukan, entah itu kekalahan besar atau tersingkir secara mengejutkan, sang manajer seharusnya datang dan berkata, ‘Ini tanggung jawab saya,’” kata Durham.
“Itu tidak berarti klub harus menerimanya. Tapi itu menunjukkan kejujuran dan memberi kesempatan bagi klub serta suporter untuk menentukan arah selanjutnya,” lanjutnya.
Menurut Durham, dua kekalahan beruntun dari Manchester United dan Bodo/Glimt mencerminkan masalah serius dalam permainan maupun pengelolaan tim.
“Semua tim bisa tampil buruk sekali. Semua tim bisa kalah karena sial. Tapi dua laga ini berbeda. City bisa saja kebobolan lima atau enam gol di kedua pertandingan itu,” ujarnya.
“Itu bukan sekadar nasib buruk. Itu adalah performa yang buruk dan manajemen tim yang buruk,” tambah Durham.
Ia juga menyoroti persoalan di lini tengah City, khususnya terkait kondisi Rodri dan absennya kontribusi Kalvin Phillips.
“Rodri hampir tidak bermain selama sekitar 18 bulan karena cedera. Nico Gonzalez juga cedera. Rodri sudah kembali, tapi jauh dari performa pemain yang memenangkan Ballon d’Or. Apakah dia dipaksakan terlalu cepat?” ucapnya.
“Dan di tengah situasi ini, mengapa Kalvin Phillips tidak dimanfaatkan? Gajinya 150 ribu pound per minggu. Bielsa dan Southgate bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tapi Guardiola tidak,” lanjut Durham.
Performa Phil Foden juga tak luput dari kritik. “Saat melawan Bodo/Glimt, Foden sama sekali tak memberi pengaruh. Ia seperti tidak tahu harus berbuat apa, lalu ditarik keluar,” kata Durham.
“Padahal Inggris membutuhkan dia berada di level tertinggi. Pep harus menemukan solusi untuk itu,” sambungnya.
Eksperimen Guardiola di sektor bek sayap turut dianggap sebagai masalah. Ia dinilai terlalu sering memaksakan bek tengah bermain sebagai fullback, sementara pemain seperti Rayan Ait-Nouri justru jarang mendapat kesempatan.
“Obsesi Pep untuk tidak menggunakan fullback murni kini menjadi bumerang. Ait-Nouri yang tampil luar biasa di Wolves kini seperti kehilangan identitas,” sindir Durham.
Kritik paling tajam diarahkan pada menurunnya ketajaman Erling Haaland. Durham menilai performa sang striker anjlok drastis dalam beberapa laga terakhir.
“Penyerang paling mematikan di dunia sekarang terlihat tumpul di bawah asuhan manajer ini. Siapa pun bisa membuat Haaland mencetak gol, tapi saat ini Pep tidak,” katanya.
Sebagai penutup, Durham menegaskan bahwa ia tidak mendesak Guardiola untuk langsung angkat kaki, namun menilai sang pelatih setidaknya harus menunjukkan tanggung jawabnya.
“Saya tidak mengatakan pengunduran diri itu harus diterima. Tapi Guardiola wajib menawarkannya,” tegasnya.
Sebagai catatan, Erling Haaland belum mencetak gol dari situasi permainan terbuka sejak memborong dua gol ke gawang West Ham pada 20 Desember 2025. Situasi tersebut semakin menambah tekanan terhadap Guardiola, yang kontraknya bersama Manchester City masih berlaku hingga akhir musim depan.












