MARC MARQUEZ ENGGAN ANAKNYA MENJADI PEMBALAP, PILIH SEPAK BOLA ATAU TENIS

Dalam wawancara eksklusif, Marquez menyingkap sisi personal, rencana comeback, dan pandangannya soal warisan nama besar.

SportsBook.co.id, Jakarta Marc Marquez membuka sisi lain kehidupannya di luar lintasan balap saat menjalani fase akhir pemulihan cedera bahu kanan. Cedera tersebut ia alami di Mandalika, Indonesia, tak lama setelah mengamankan gelar MotoGP ketujuh dalam kariernya. Pada musim dingin ini, pembalap Ducati tersebut menjadi bintang dalam wawancara eksklusif bersama stasiun televisi Spanyol, La Sexta.

Program khusus itu mengulas perjalanan panjang Marquez dalam bangkit dari cedera yang menghantuinya selama lebih dari empat tahun. Wawancara tersebut disiarkan pada Selasa (6/1/2026) dan direkam sepenuhnya di Cervera, Lleida, kota kelahirannya yang selama ini menjadi tempatnya menenangkan diri.

Dalam perbincangan panjang tersebut, Marquez berbicara terbuka tentang kehidupan pribadinya, termasuk pandangannya soal masa depan jika suatu hari menjadi seorang ayah. Ketika ditanya apakah ia ingin anaknya mengikuti jejaknya sebagai pembalap motor, Marquez menjawab dengan tegas.

“Saya tidak menginginkannya. Saya pernah memikirkannya dan merasa kasihan pada anak itu. Nama belakang saya justru bisa menjadi beban besar bagi mereka,” ujar Marquez.

Menurutnya, meski anaknya kelak tidak akan mengalami kesulitan secara finansial, kondisi tersebut justru bisa menghilangkan semangat juang. “Jika seseorang tidak pernah kekurangan apa pun, biasanya dorongan untuk berjuang juga berbeda,” tambahnya. Marquez pun mengaku lebih senang jika anaknya memilih olahraga lain seperti sepak bola atau tenis.

Fokus Kembali ke Motor

Beberapa pekan lalu, pembalap bernomor #93 itu akhirnya mendapat izin kembali berlatih menggunakan motor offroad setelah hasil pemeriksaan menunjukkan tulang bahunya telah pulih dengan baik. Dalam waktu dekat, Marquez dijadwalkan menjajal motor jalan raya Ducati Panigale V4 di Aspar Circuit, Valencia.

Target utama pembalap asal Catalunya tersebut adalah mencapai kondisi fisik optimal sebelum mengikuti tes pramusim MotoGP 2026 yang akan berlangsung di Sepang, Malaysia, pada 3–5 Februari. Ujian ini menjadi tantangan terakhir dalam salah satu periode paling berat sepanjang kariernya.

Dalam wawancara itu, Marquez juga mengungkap proses mental yang ia alami selama masa pemulihan cedera. Ia membagi fase tersebut ke dalam tiga tahapan.

“Pada tahap pertama, Anda benar-benar hancur. Saya baru saja memenangkan kejuaraan dunia, lalu harus tinggal di rumah selama berminggu-minggu tanpa ingin melihat siapa pun. Rasa sakit membuat emosi tidak stabil,” tuturnya.

Fase berikutnya adalah ketika seseorang merasa sudah pulih, padahal sebenarnya belum sepenuhnya siap. “Di situlah saya harus berhenti dan menerima bahwa tubuh saya belum mampu,” jelasnya. Tahap terakhir, menurut Marquez, adalah fase kesabaran—keinginan kuat untuk kembali membalap harus ditahan demi pemulihan jangka panjang.

Soal Pensiun dan Kritik Publik

Terkait masa pensiun, Marquez mengakui bahwa keputusan tersebut bukan hal mudah bagi seorang atlet. Namun, untuk saat ini, ia belum memikirkannya secara serius.

“Yang paling sulit adalah mengetahui kapan harus berhenti. Saya sadar tubuh saya suatu hari akan memaksa saya pensiun lebih cepat dari yang saya inginkan secara mental,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung soal kritik yang kerap diterimanya di media sosial. Marquez mengaku kini lebih bijak dalam menyikapinya. “Saya membaca secukupnya saja. Dari banyak komentar, manusia cenderung hanya mengingat yang negatif. Sekarang, hal-hal seperti itu sudah tidak memengaruhi saya lagi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *