Mirisnya Nasib Sriwijaya FC: Degradasi Datang Terlalu Cepat di Pegadaian Championship 2025/2026

Degradasi dini Sriwijaya FC menjadi puncak krisis panjang akibat masalah finansial dan buruknya manajemen, mengubur kejayaan lama dan memaksa Laskar Wong Kito turun ke Liga Nusantara musim depan

Mirisnya Nasib Sriwijaya FC: Degradasi Datang Terlalu Cepat di Pegadaian Championship 2025/2026
Mirisnya Nasib Sriwijaya FC: Degradasi Datang Terlalu Cepat di Pegadaian Championship 2025/2026

SportsBook.co.id, Jakarta – Perjalanan Sriwijaya FC musim ini benar-benar menjadi catatan kelam dalam sejarah klub. Tim berjuluk Laskar Wong Kito itu resmi menjadi kontestan pertama yang harus turun kasta dari Pegadaian Championship 2025/2026, meski kompetisi masih menyisakan enam pertandingan lagi.

Kepastian tersebut hadir lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Dengan koleksi dua poin dari serangkaian laga yang telah dijalani, Sriwijaya FC tak lagi memiliki peluang matematis untuk keluar dari zona merah. Kondisi ini mempertegas betapa beratnya musim yang harus mereka lalui sejak awal kompetisi.

Kekalahan Menyakitkan di Kandang Sendiri

Laga pekan ke-21 menjadi momen yang memastikan nasib pahit tersebut. Bermain di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Sabtu malam (28/2/2026), Sriwijaya FC harus mengakui keunggulan Sumsel United dengan skor telak 0-3. Kekalahan itu terasa semakin menyakitkan karena terjadi di hadapan pendukung sendiri.

Sepanjang pertandingan, Sriwijaya FC sebenarnya berusaha tampil agresif. Namun, rapuhnya koordinasi lini belakang serta minimnya kreativitas di sektor tengah membuat mereka kesulitan mengimbangi permainan lawan. Sumsel United tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang, sementara SFC kembali gagal memaksimalkan kesempatan yang ada.

Hasil tersebut bukan sekadar tambahan statistik buruk, melainkan juga penegasan bahwa mereka tak mampu lagi mengejar ketertinggalan poin dari para pesaing di atasnya.

Jarak Poin Terlampau Lebar

Hingga pekan ke-21, Sriwijaya FC baru mengoleksi dua angka. Dengan enam laga tersisa, secara teori mereka masih bisa menambah 18 poin. Namun, jarak dengan tim di atasnya sudah terlalu jauh untuk dikejar.

Tim penghuni posisi kesembilan di Grup A, Persekat Tegal, telah mengumpulkan 22 poin. Artinya, terdapat selisih 20 poin antara kedua tim. Dengan kondisi tersebut, sekalipun Sriwijaya FC menyapu bersih seluruh laga tersisa, mereka tetap tak akan mampu keluar dari posisi juru kunci.

Situasi ini membuat degradasi menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Bahkan sebelum kompetisi benar-benar berakhir, kepastian turun kasta sudah harus mereka terima.

Masalah Finansial yang Menghantui

Keterpurukan Sriwijaya FC musim ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Sejak awal musim, berbagai persoalan nonteknis telah membayangi tim kebanggaan masyarakat Palembang tersebut.

Krisis finansial menjadi isu utama yang terus mencuat. Kondisi keuangan klub yang tidak stabil berdampak langsung pada operasional tim. Beberapa pemain memilih hengkang karena ketidakjelasan kontrak dan pembayaran gaji. Akibatnya, kekuatan skuad semakin tergerus dan sulit bersaing dengan tim lain yang lebih solid.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, Sriwijaya FC harus melakukan perjalanan tandang menggunakan bus untuk laga luar pulau. Situasi ini tentu jauh dari standar profesional yang lazim diterapkan klub-klub kompetisi level kedua. Kelelahan fisik akibat perjalanan panjang pun turut memengaruhi performa di lapangan.

Kombinasi antara masalah finansial, ketidakstabilan manajemen, serta performa tim yang inkonsisten menjadi paket lengkap yang menyeret Sriwijaya FC menuju jurang degradasi.

Dari Raksasa ke Liga Ketiga

Musim depan, Sriwijaya FC dipastikan tampil di Liga Nusantara, kompetisi kasta ketiga sepak bola nasional. Bagi klub dengan sejarah besar seperti SFC, kenyataan ini tentu terasa sangat menyakitkan.

Didirikan pada 2004, Sriwijaya FC lahir setelah Pemerintah Sumatra Selatan mengakuisisi lisensi Persijatim Solo FC. Dalam waktu relatif singkat, mereka menjelma menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia.

Prestasi demi prestasi berhasil diraih. Dua gelar Liga Indonesia dan tiga trofi Copa/Piala Indonesia menjadi bukti kejayaan mereka di era keemasan. Stadion Gelora Sriwijaya pernah menjadi saksi bagaimana tim ini tampil dominan dengan diperkuat deretan pemain bintang, baik lokal maupun asing.

Pada masa jayanya, Sriwijaya FC identik dengan manajemen yang ambisius dan dukungan finansial kuat. Klub ini menjadi magnet bagi talenta-talenta terbaik Tanah Air.

Salah Kelola dan Ketergantungan Politik

Namun, kesuksesan tersebut perlahan memudar. Pengelolaan klub yang kurang profesional disebut-sebut menjadi salah satu penyebab utama kemunduran. Ketergantungan pada figur tertentu serta dinamika politik lokal membuat stabilitas klub terganggu.

Perencanaan jangka panjang yang tidak konsisten turut memperburuk keadaan. Ketika dukungan finansial melemah, fondasi klub yang seharusnya kuat justru goyah. Tanpa sistem manajemen modern dan transparan, Sriwijaya FC kesulitan beradaptasi dengan perkembangan sepak bola profesional yang semakin kompetitif.

Akibatnya, kejayaan masa lalu kini terasa seperti kenangan yang semakin jauh. Degradasi musim ini seolah menjadi puncak dari rangkaian persoalan yang tak kunjung terselesaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Harapan untuk Bangkit

Meski situasi saat ini terlihat suram, peluang untuk bangkit tetap terbuka. Bermain di Liga Nusantara bisa menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi manajemen. Restrukturisasi organisasi, perbaikan tata kelola keuangan, serta fokus pada pembinaan pemain muda dapat menjadi langkah awal menuju kebangkitan.

Sriwijaya FC memiliki basis suporter yang loyal dan sejarah panjang yang patut dibanggakan. Modal tersebut seharusnya cukup untuk menjadi fondasi kebangkitan, asalkan dibarengi komitmen serius dari para pemangku kepentingan.

Jika pembenahan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin Sriwijaya FC kembali menapaki jalur prestasi. Namun, tanpa perubahan nyata, kisah kejayaan yang pernah mereka raih berpotensi benar-benar tenggelam dalam ingatan.

Musim 2025/2026 akan selalu dikenang sebagai periode paling pahit dalam sejarah klub. Kini, pilihan ada di tangan manajemen: membiarkan sejarah besar itu perlahan terlupakan, atau menjadikannya bahan bakar untuk bangkit dan menulis babak baru yang lebih gemilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *