SportsBook.co.id, Jakarta – Perjalanan Ole Romeny bersama Oxford United pada musim 2025/2026 belum berjalan sesuai harapan. Penyerang berusia 25 tahun yang juga membela Timnas Indonesia itu masih kesulitan memberi dampak nyata bagi klubnya di kompetisi EFL Championship.
Hingga kompetisi memasuki fase krusial, Romeny belum mencatatkan satu pun gol maupun assist. Minimnya waktu bermain menjadi salah satu faktor utama yang membuat kontribusinya belum maksimal.
Lebih Sering Menghangatkan Bangku Cadangan
Sepanjang musim ini, Ole Romeny tercatat tampil dalam 14 pertandingan resmi bersama Oxford United. Namun, sebagian besar penampilannya terjadi sebagai pemain pengganti, biasanya masuk pada menit-menit akhir babak kedua.
Dengan peran yang terbatas tersebut, total waktu bermain yang ia kumpulkan baru mencapai 363 menit. Angka ini tentu tergolong kecil bagi seorang striker yang membutuhkan ritme pertandingan untuk menjaga ketajaman dan kepercayaan diri.
Situasi ini membuat Romeny sulit menemukan momentum. Seorang penyerang biasanya memerlukan kepercayaan penuh dari pelatih untuk tampil sejak awal laga agar bisa beradaptasi dengan tempo pertandingan dan membaca pola permainan lawan. Sayangnya, kesempatan itu belum banyak didapatkan mantan pemain FC Utrecht tersebut.
Kurangnya menit bermain juga berdampak pada kepercayaan diri. Tanpa jam terbang yang cukup, sulit bagi seorang striker untuk langsung tampil tajam ketika diberi kesempatan singkat.
Kalah Bersaing di Lini Depan
Persaingan di lini serang Oxford United menjadi tantangan tersendiri bagi Romeny. Saat ini, posisi penyerang utama lebih sering dipercayakan kepada Will Lankshear, pemain muda pinjaman dari Tottenham Hotspur.
Lankshear tampil cukup impresif dan menjadi top skor sementara tim dengan koleksi enam gol musim ini. Performa tersebut membuatnya lebih diandalkan sebagai pilihan utama di lini depan.
Kondisi ini secara tidak langsung membuat Romeny berada dalam posisi sulit. Pelatih tentu cenderung mempertahankan pemain yang sedang produktif. Akibatnya, kesempatan bagi Romeny untuk tampil sebagai starter semakin terbatas.
Dalam sepak bola profesional, persaingan adalah hal yang wajar. Namun bagi Romeny, situasi ini menuntut kerja keras ekstra agar mampu merebut kembali tempat di starting eleven. Ia perlu menunjukkan kualitasnya setiap kali diberi peluang, meski hanya dalam durasi singkat.
Performa Tim yang Belum Stabil
Bukan hanya Romeny yang mengalami musim penuh tantangan. Secara keseluruhan, Oxford United juga sedang menjalani periode yang tidak mudah di EFL Championship 2025/2026.
Dari 32 pertandingan yang sudah dijalani, tim ini baru mengoleksi 28 poin dan masih tertahan di papan bawah klasemen sementara. Tekanan untuk menjauh dari zona degradasi membuat situasi di dalam tim semakin kompleks.
Perubahan di kursi manajer dari Gary Rowett ke Matt Bloomfield diharapkan mampu membawa angin segar. Namun hingga kini, dampak signifikan belum terlihat secara konsisten di lapangan.
Selain kesulitan di liga, Oxford United juga harus mengubur ambisi di ajang Piala FA setelah tersingkir pada putaran keempat. Rangkaian hasil kurang memuaskan tersebut turut memengaruhi atmosfer tim secara keseluruhan.
Dalam kondisi seperti ini, pelatih cenderung mengandalkan pemain yang dianggap paling siap secara taktik dan mental. Hal ini membuat ruang rotasi menjadi lebih sempit, terutama bagi pemain yang belum menunjukkan kontribusi nyata.
Dampak bagi Karier Internasional
Situasi Romeny di level klub tentu menjadi perhatian bagi Timnas Indonesia. Menjelang pengumuman skuad untuk agenda internasional pada Maret mendatang, peluangnya untuk kembali dipanggil menjadi bahan perbincangan.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, membutuhkan pemain yang tidak hanya fit secara fisik, tetapi juga memiliki kebugaran pertandingan atau match fitness yang terjaga. Bermain secara reguler di klub biasanya menjadi salah satu indikator penting dalam pemilihan pemain.
Minimnya menit bermain Romeny bisa menjadi pertimbangan tersendiri. Tanpa ritme kompetitif yang cukup, performa di level internasional bisa terpengaruh.
Namun demikian, pengalaman dan kualitas individu tetap menjadi nilai plus. Jika pelatih menilai Romeny masih mampu memberikan kontribusi, peluang untuk tetap masuk skuad tentu masih terbuka.
Situasi Penyerang Timnas yang Serupa
Menariknya, Romeny bukan satu-satunya striker Timnas Indonesia yang mengalami musim kurang ideal. Ramadhan Sananta juga tidak selalu menjadi pilihan utama di DPMM FC musim ini.
Sementara itu, Mauro Zijlstra baru saja bergabung dengan Persija Jakarta dan masih dalam tahap adaptasi bersama klub barunya. Kondisi ini membuat opsi di lini depan Timnas Indonesia tidak sepenuhnya dalam performa terbaik.
Keadaan tersebut bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Romeny. Di satu sisi, persaingan tidak terlalu timpang karena beberapa striker lain juga belum stabil. Namun di sisi lain, pelatih tentu akan memilih pemain yang paling siap menghadapi tekanan pertandingan internasional.
Mencari Titik Balik
Bagi Ole Romeny, sisa musim ini menjadi momen krusial untuk membalikkan keadaan. Ia perlu memanfaatkan setiap peluang sekecil apa pun untuk membuktikan diri.
Mencetak satu gol saja bisa menjadi titik balik yang mengangkat kepercayaan diri. Dari sana, kepercayaan pelatih berpotensi meningkat, dan menit bermain bisa bertambah secara bertahap.
Di usia 25 tahun, Romeny masih memiliki waktu untuk berkembang. Karier seorang penyerang kerap dipenuhi pasang surut. Yang terpenting adalah bagaimana ia merespons situasi sulit ini.
Jika mampu menunjukkan mentalitas kuat dan konsistensi dalam latihan maupun pertandingan, bukan tidak mungkin ia kembali mendapatkan peran penting, baik di klub maupun di Timnas Indonesia.
Musim ini memang belum berjalan sesuai ekspektasi. Namun perjalanan belum berakhir, dan peluang untuk bangkit masih terbuka lebar.












